Rabu, 15 Desember 2010

Mengapa Harus Menggunakan E-LEARNING Dalam Kegiatan Pembelajaran


Pendahuluan
Allan J.Honderson, sebagimana yang dikutip oleh Roy Sembel dan Sarah Sembel mengemukakan bahwa e-learning adalah pembelajaran jarak jauh yang menggunakan teknologi computer, atau yang biasanya disebut internet. Lebih lanjut dikemukakan bahwa e-learning memungkinkan peserta didik belajar tanpa harus hadir secara fisik di ruang kelas dan berinteraksi langsung dengan guru/dosen. Dengan menggunakan computer di tempat mereka masing-masing yang sudah terkoneksi dengan internet, peserta didik dapat mengikuti pelajaran.
Keadaan tersebut di atas dimungkinkan terjadi apabila lembaga pendidikan(sekolah/pendidikan tinggi) telah mengembangkan e-learning. William Horton, sebagimana yang dikutip oleh Roy Sembel menjalaskan bahwa e-learning merupakan pembelajaran berbasis web(yang bisa diakses dari internet). E-learning merupakan pembelajaran yang disampaikan dengan menggunakan media elektronik yang terhubung dengan internet(world wide web yang menghubungkan semua unit computer di seluruh dunia yang terkoneksi dengan internet) dan intranet(jaringan yang bisa menghubungkan semua unit computer dalam sebuah institusi).
Melalui e-learning, para pesrta didik(siswa maupun mahasiswa) dimungkinkan untuk tetap dapat belajar sekalipun secara fisik tidak hadir atau berhalangan hadir mengikuti kegiatan perkuliahan di dalam kelas. Keadaan yang demikian ini dapt terjadi apabila lembaga pendidikan telah mengembangkan dan mengimplementasikan e-learning dalam kegiatan pembelajaran sehingga para peserta didik dapat lebih mengoptimalkan kegiatan belajarnya. Interaksi para peserta didik dengan guru atau dosen tidak lagi terbatas hanya di ruang kelas atau perkuliahan tetapi dapat dilanjutkan di ruang maya(virtual room).

Kajian Literatur Dan Pembahasan
Manfaat e-learning
Karateristik e-learning antara lain adalah : (a) memanfaatkan jasa teknologi elektronik dimana gruru dan peserta didik, peserta didik dans esama peserta didik atau guru dan sesame guru dapat berkomunikasi dengan relative mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler, (b) memnfaatkan keunggulan computer(digital media dan compter networks), (c) menggunakan bahan belajar yang bersifat mandiri(self learning materials) dan yang tersimapan dikomputer sehungga dapat diakses oleh guru dan peserta didik kapan saja dan dimana saja bila yang bersangkutan memerlukannya, dan (d) memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di computer.
Secara lebih rinci, manfaat e-learning dapat dilihat dari 2 sudut, taitu dari sudut peserta dididk dan guru/dosen.


  1. Dari Sudut Peserta Didik
Dengan kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas kegiatan pembelajaran yang tinggi. Artinya, peserta didik tidak hanya dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat tatapi juga dapat melakukannya secara berulang0ulang sesuai kebutuhan. Manakala peserta didik menghadapi masalah atau kesulitan memahami materi pelajaran atau kesulitan lainnya, maka pesrta didik dapat berkomunikasi dengan guru/dosen setiap saat sesuai dengan tuntutan keperluannya.
Selain itu peserta didik juga dapat (1) belajar sendiri secra cepat untuk (a) meningkatkan penegtahuan atau memperluas wawasan, (b) belajar secara interaktif melalui komunikasi dengan sesama peserta didik atau narasumber lainnya, dan (c) mengembangkan kemampuan di bidang penelitian yang sekaligus juga meningkatkan kepekaan terhadap berbagi permasalahn yang ada.
Kegiatan e-learning menurut Brown (Brown,2000) akan meberikan manfaat kepada peserta didik yang : (1) belajar di sekolah-sekolah kecil di daerah-daerah miskin untuk mengikuti mata pelajaran tertentu yang tidak dapat diberikan oleh sekolahnya, (2) mengikuti program pendidikan keluarga di rumah(home schoolers) untuk mempelajari materi pembelajaran yang tidak dapat diajarkan oleh para orangtuanya seperti bahasa asing dan keterampilan di bidang komputer, (3) merasa phobia dengan sekolah, atau peserta didik yang dirawat di rumah sakit maupun di rumah, yang putus sekolah tetapi berminat melanjutkan pendidikannya, yang dikeluarkan oleh sekolah, maupun peserta didik yang berada di berbagai daerah atau bahkan yang berada di luar negeri, dan (4) tidak tertampung di sekolah konvensional untuk mendapatkan pendidikan.
  1. Dari Sudut Guru/Dosen
Phillip Rekdale mengemukakan bahwa melalui pemanfaatan internet, para guru/dosen mempunyai kesempatan untuk pengembangan kemampuan profesionalnya, yaitu diantaranya melalui (1) peningkatan pengetahuan, (2) berbagi sumber diantara sesama guru yang semata pelajaran, (3) penerbitan atau publikasi, (4) bekerjasama dengan guru-guru di luar negeri, dan (5) berpartisipasi dalam forum dan rekan sejawat baim lokal maupun internasional.
Dengan adanya kegiatan e-learning (Soekartawi, 2002), beberapa manfaat yang diperoleh guru/dosen/instruktur antara lain adalah bahwa guru/dosen/instryktur dapat : (1) lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi, (2) mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak, (3) mengontrol kegiatan belajar peserta didik. Bahkan guru/dosen/instruktur juga dapat mengetahui kapan peserta didiknya belajar, topik apa yang telah dipelajari, berapa lama suatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang, (4) mengecek apakah peserta didik telah mengajarkan soal-soal latihan setelah mempelajari topik tertentu, dan (5) memeriksa jawaban peserta didik dan meberitahukan hasilnya kepada peserta didik.
Sedangkan ahli lainnya, A.W.Bates (Bates,1995) dan K.Wulf (Wulf,1996) mengemukakan 2 (empat) manfaat e-learning yaitu sebgai berikut :
  1. Meningkatkan kadar inetraksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity). Peserta didik yang malu maupun yang ragu-ragu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas (Loftus, 2001)
  2. Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibillity). Mengngat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber ini kapan saja dan dari mana saja (Dowling, 2002).
  3. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience). Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan e-learning semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, dimana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar dan berinteraksi dengan materi pelajaran melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka luas bagi siapa saja yang membutuhkan untuk pengembangan kualitas dirinya.
  4. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities). Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak yang terus berkembang turut mebnatu mempermudah pengembangan materi e-learning. Demikian juag dengan penyempurnaan atau pemutakhiran materi pelajaran, dapat dilakukan secara periodic dan mudah sesuai dengan tuntutan perkembanagn ilmu pengetahuan.
  5. Penghematan Biaya. Melakukan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan melalui penerapan e-learning, dimungkinkan untuk melakukan penghematan biaya. Komponen pembaiyaan yang dapat dihemat, antara lain adalah biaya transportasi ke tempat belajar dan akomodasi selama belajar (terutama jika tempat belajar berada di kota lain atau bahkan di Negara lain), biaya administrasi pengelolaan kegiatan pendidikan/pembelajaran (misalnya : biaya gaji dan tunjanagan selama pelatihan, baiaya instruktur dan tenaga administrasi pengelola pelatihan, makanan selama pelatihan), penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar (misalnya : oenyewaan ataupun penyediaan kelas, kursi, papan tulis, LCD player, OHP)

Kesiapan Untuk Memanfaatkan E-Learning
  1. Kesiapan Infanstruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
Dengan semakin luasnya ketersediaan infrastruktur atau jaringan internet, maka yang dapat mengakses internet tidak lagi terbatas terbatas hanya pada masyarakat di kota-kota besar saja tetapi sudah menjangkau masyarakat di tingkat kacematan (sekalipun belum menjangkau seluruh kecamatan). Oleh karena itu, bukanlah sesuatu yang dirasakan sulit dewasa ini oleh masyarakat di wilayah kabupaten/kota untuk mengakses internet. Ketersediaan fasilitas jaringan internet yang semakin luas cakupannya ini telah menggugah berbagai lembaga pendidikan atau pelatihan untuk memanfaatkan fasilitas akses internet untuk kepentingan peserta didiknya. Dengan semakin luasnya ketersediaan fasilitas jaringan internet dan meningkatnya jumlah tempat yang menyediakan jasa mengakses internet (warung internet, kios intyernet atau internet cafe), maka akan semakin memudahkan peserta didik untuk mengoptimalkan pemanfaatan waktu belajarnya mengakses internet.
  1. Bagaimana Kesiapan Pemanfaatan E-learning di Sekolah?
Tidak dapat dipungkiri bahwa pertama-tama memang sekolah-sekolah(mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah) yang berada di kota-kota besar yang berprakasa untuk memulai kegiatan pemnafaatan komputer. Prakarsa ini tampak dari upaya yang dilakukan oleh pimpinan sekolah untuk melengkapi sekolah dengan perangkat atau fasilitas komputer (lab komputer).
Dengan tersedianya fasilitas lab komputer, LAN, dan koneksi internet, maka para peserta didik tidak lagi hanya belajar tentang bagaimana mengoperasikan komputer. Perangkat komputer dan fasilitas jaringan internet serta LAN yang telah dimiliki sekolah ini lebih ditingkatkan lagi fungsinya, yaitu antara lain sebagai wahana untuk (1) menyajikan materi pelajaran dan tugas0tugas yang dapat diakses peserta didik kapan saja, (2) berkomunikasi, baik antara peserta didik dengan guru maupun antarasesama peserta didik, dan (3) mendiskusinkan berbagai topik materi pelajaran dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi peserta didik untuk memahaminya. Dipihak lain pengetahuan dan kemampuan para gurur juga ditingkatkan sehingga mereka menjadi lebih kompeten untuk membelajarkan para peserta didiknya untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan yang berkembang.
Sekalipu perkembangan funsi e-learning dalam kegiatan pembelajaran yang diterpkan di berbagai sekolah pada umumnya masih terbatas sebagi pelengkap, namun diharapkan pada tahapan berikutnya akan ada sekolah yang memasang sebagian besar kegiatan pembelajarannya diselenggarakan melalui media elektronik. Manakala telah ada upaya perintisan sekolah yang sebagian besar kegiatan pembelajarannya dilaksanakan melalui pemenafaatan media elektronik (off-line dan on-line), maka upaya ini akann membuka peluang bagi para pesrta didik yang akrena satu dan lain hal tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah konvensional tatap muka. Keberadaan sekolah yang demikian ini juga akan sangat bermanfaat nagi mereka yang didik melalui pendidikan keluarga (home schooling). Inisatif perintisan sekolah maya (virtual school) kemungkinan memang masih belum kondusif tetapi setidak-tidaknya telah mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas.
  1. Peluang Pemanfaatan E-Learning di Sekolah
Beberapa sekolah dimulai dari Sekolah Dasar(SD) sampai dengan Sekolah Menengah Tingkat Atas(SMA) di kota-kota besar memperlihatkan respon yang positif terhadap pemanfaatan e-learning, respon yang positif ini tampak dari upaya sekolah yang telah melengkapi sekolahnya dengan fasilitas komputer (lab komputer) dan fasilitas LAN. Pengadaan fasilitas yang demikian ini pada umumnya disertai dengan dengan penyiapan tenaga yang akan mengelola dan membelajarkan para peserta didiknya di bidang pengetahuan dan keterampilan komputer.
Seiring dengan perkembangan/kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi dimana infarstruktur telah tersedia dan menjangkau sebgaian wilayah kabupaten/kota maka masyarakat luas semakin dimungkinkan untuk melakukan akses internet. Ketersediaan infrastruktur ini dimanfaatkan oleh sebagian anggota masyarakat untuk menyediakan tempat-tempat pemanfaatan internet bagi masyarakat luas. Dengan berperan sertanya masyarakat dalam pengadaan tempat-tempat penyediaan jasa akses internet(warung internet atau internet cafe) maka semkain terbuka luas peluang mengkases internet untuk kepentingan pembelajaran bagi para peserta didik.

Bagaimana Mengoptimalkan Pemanfaatan E-Learning?
Seperti halnya pembelajaran dengan cara lain, e-learning bisa memberikan manfaat yang optimal jika beberapa kondisi berikut terpenuhi.
  1. Tujuan
Sebelum memutuskan untuk mengikuti kegiatan pemeblajaran melalui e-learning, maka satu hal yang perlu ditentukan terlebih dahulu adalah apa yang menjadi tujuan belajar yang akan kita capai. Berdasrkan tujuan inilah kita akan dapat memilih topic, bahan-bahan belajar, lama belajar, biaya dan dan sarana atau media pembelajaran yang sesuai(dalam hal ini yang difokuskan adalah media pembelajaran elektronik). Tujuan ini hendaknya bersifat spesifik dan terukur. Seandainya kita menentukan bahwa keterampilan mengekspresikan pendapat/gagasan/ide yang lebih tepat dipraktekkan melalui internet, maka kita perlu merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
b.      Peserta Didik
Cara belajar dengan e-learning memberikan peluang untuk menjadi peserta didik yang independen. Jadi, untuk mendapatkan manfaat yang optimal dari e-learning, kita hendaknya merasa senang dan termotivasi untuk belajar secara independent dan mengembangkan sikap yang positif terhadap kegiatan pembelajaran dan perluasan wawasan. Artinya, kita memilki motivasi tinggi untuk menguasai topic pelajaran, memperlakukan kegiatan belajar bukan sebagai beban tetapi sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas diri, dan mampu menerapkan disiplin dalam kegiatan belajar .
c. Dukungan
Cara belajar melalui e-learning akan lebbih mudah jika mendapatkan dukungan dari orang-orang yang terkait dengan peserta didik (misalnya : keluarga, sahabat, rekan sekerja, atau atasan peserta didik pada perusahaan tempay bekerja bagi yang sudah bekerja). Denga dukungan dari berbagai pihak(baik berupa dana, dukungan moril, maupun dukungan fasilitas), semangat belajar yang terkadang turun bisa tetap dipertahankan, bahkan dipacu lebih tinggi. Masalah yang dihadapi dalam belajar bisa dituntaskan sehingga proses belajar dan penyelesaian program bisa lebih mudah dijalankan.
d.      Media Lain
         E-learning hanyalah sebuah “alat” atau wahana yang dapat digunakan untuk mencapai suatu tujuan. “Alat” atau wahana ini jika digunakan bersama-sama “alat-alat” lainnya kan mempercepat dan mempermudah pencapaian tujuan. Dengan demikian, e-learning tidak harus sepenuhnya digunakan secara murni, tetapi bisa diintegrasikan dengan penggunaan media lain sehingga saling menunjang meraih tujuan si pembelajar. Jadi, jika memang ada kesempatan untuk menggunakan media lain untuk belajar



F.  KESIMPULAN
Kebijakan institusi pendidikan dalam memanfaatkan teknologi internet menuju e-learning
perlu kajian dan rancangan mendalam. E-learning bukan semata-mata hanya memindahkan semua pembelajaran pada internet. Hakekat e-learning adalah proses pembelajaran yang dituangkan melalui teknologi internet. Disamping itu prinsip sederhana, personal, dan cepat perlu dipertimbangkan. Untuk menambah daya tarik dapat pula menggunakan teori games. Oleh karena itu prinsip dan komunikasi pembelajaran perlu didesain seperti layaknya pembelajaran konvensional. Di sini perlunya pengembangan model e-learning yang tepat sesuai kebutuhan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa media pembelajaran secanggih apapun tidak akan bisa menggantikan sepenuhnya peran guru/dosen. Penanaman nila-nilai dan sentuhan kepribadian sulit dilakukan. Di sini tantangan bagi para pengambil kebijakan dan perancang e-learning. Oleh karena itu saya sependapat bahwa dalam sistem pendidikan konvensional, fungsi e-learning adalah untuk memperkaya wawasan dan pemahaman peserta didik, serta proses pembiasaan untuk melek sumber belajar khususnya teknologi internet.
Penerapan e-learning dalam proses pembelajaran di UT masih dalam taraf pengembangan. Pengembangan perlu terus dilakukan karena penerapan e-learning merupakan suatu bentuk education change dalam dunia pendidikan baik di Indonesia maupun di dunia. Konsekuensi suatu perubahan adalah munculnya berbagai kendala yang terjadi terutama karena ketidakbiasaan dan ketidaksiapan berbagai pihak dalam menghadapi perubahan tersebut. Kendala-kendala yang muncul pada suatu perubahan harus dilihat sebagai bagian dari perubahan itu sendiri yang hendaknya disikapi dengan optimisme.
Penerapan e-leraning dalam proses pembelajaran membutuhkan waktu dan usaha yang berkesinambungan. Pihak-pihak yang terlibat dalam penerapan e-learning sebagai suatu perubahan dalam proses pembelajaran hendaknya juga menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan yang begitu pesat dalam teknologi informasi. Pengalaman UT dalam menerapkan e-learning untuk kepentingan tutorial menunjukkan bagaimana proses perubahan berlangsung secara bertahap namun berkesinambungan, dari tingkat universitas ke tingkat fakultas. Berbagai cara perlu dicari dan uji coba berbagai penelitian untuk mencari cara yang paling dapat diterima berbagai pihak, dalam hal ini mahasiswa, tutor, dan staf administrasi sebagai pengelola tutorial. Peran budaya yang mempengaruhi mahasiswa dalam penggunaan teknologi mungkin perlu menjadi pertimbangan utama dalam penelitian pengembangan e-learning di Indonesia. Dengan mempertimbangkan kondisi dan budaya, maka diharapkan penerapan e-learning di dunia pendidikan di Indonesia dapat dilakukan dengan maksimal.

1 komentar:

  1. bisa minta tolong kirimin judul bukunya Roy Sembel dan Sarah Sembel
    terimakasih

    BalasHapus