Pengatar Statistika pertemuan ke - 1
oleh Hilman Aerhand Okko pada 25 September 2010 jam 19:27
BAGIAN I Statistik Deskriptif
* Statistika
Ilmu mengumpulkan, menata, menyajikan, menganalisis, dan menginterprestasikan data menjadi informasi untuk membantu pengambilan keputusan yang efektif.
* Statistik
Suatu kumpulan angka yang tersusun lebih dari satu angka.
Perkembangan statistika
(a) Jaman Mesir dan Cina untuk menentukan besar pajak
(b) Jaman gereja untuk mencatat kelahiran, kematian, dan pernikahan
(c) Tahun 1937 Tinbergen mengembangkan ekonomi statistik
(d) Hicks mengembangkan matematika ekonomi untuk analisis IS- LM
(e) Tahun 1950, Bayes mengembangkan Teori Pengambilan Keputusan
Statistika Deskriptif
metode yang berkaitan dengan
pengumpulan, peringkasan ,penyajian
data sehingga memberikan informasi
organisation, summarization and
presentation of data
Statistika Induktif
metode yang berkaitan dengan analisis
data untuk peramalan dan/atau penarikan
kesimpulan
Data Kualitatif
diklasifikasi berdasarkan kategori tertentu
mis : data hasil wawancara yang dijawab : "YA"
atau "TIDAK"
Data Kuantitatif
dinyatakan dalam besaran numerik (angka)
mis : data pendapatan per kapita, data harga. dll
Data Diskret
Data-data yang
diperoleh dari hasil
menghitung atau
membilang
1. Jumlah mobil
2. Jumlah staf
3. Jumlah TV, dll
Data Kontinu
data-data yang
diperoleh dari
hasil mengukur
1. Berat badan
2. Jarak kota
3. Luas rumah, dll
Data Primer
1. Wawancara langsung
2. Wawancara tidak langsung
3. Pengisian kuisioner
Data Sekunder
Data dari pihak lain:
1. BPS
2. Bank Indonesia
3. World Bank, IMF
4. FAO dll
Selamat datang.. Keluarkan sedikit/banyak kata yang bisa diucapkan dapat membantu saya dalam memperbaiki kekurangan blog ini, Terima Kasih.
Sabtu, 25 Desember 2010
Jumat, 24 Desember 2010
PEMANFAATAN PAKET MULTI MEDIA DALAM SISTEM PEMBELAJARAN JARAK JAUH: PENGALAMAN UNIVERSITAS TERBUKA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2010
Pemanfaatan Paket Multimedia Dalam Sistem Pembelajaran Jarak Jauh: Pengalaman Universitas Terbuka
Sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, khususnya pada jenjang Perguruan Tinggi memperhatikan hal-hal berikut untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas:
1. kurikulum yang ramping efisien dan efektif, yaitu dengan tujuan kurukuler yang sesuai dengan kebutuhan stakeholders.
2. system pendidikan yang multi entri dan multi exit
3. system pendidikan sepanjang hayat.
4. tutorial yang inheren
5. system alih kredit yang adil dan sistematis
6. system evaluasi yang berkualitas
7. system komunikasi dan informasi yang intergratif
8. penerapan teknologi komunikasi informasi yang canggih dalam pembelajaran
Universitas terbuka atau UT merupakan institusi pendidikan tinggi yang ,menerapkan pendidikan terbuka dan jarak jauh. Pada awal berdirinya, UT menggunakan media cetak sebagai media utama. Pada perkembangannya UT menyadari perlunya dikembangkan bahan ajar yang memungkinkan intensitas interaksi yang lebih tinggi antara mahasiswa dan bahan ajar.
Penyelenggaraan pendidikan dengan sistem jarak jauh (PJJ) tidak dapat dilepaskan dari peran media. Keagan 1991 menekannkan pentingnya penggunaan media dalam PJJ sebagai konsekuensi dari adanya keterpisahan antara sumber belajar dan peserta belajar.
Pengertian dan jenis media
Media adalah alat komunikasi yang digunakan untuk membawa informasi yang dimaksudkan untuk pembelajaran ( Heinich,dkk., 1996 ). Dalam sebuah penyelenggaraan system PTJJ, media merupakan sebuah prasyarat yang diperlukan untuk menjembatani keterpisahan antara pengajar dan perserta didik.
Jenis media dalam Pembelajaran Terbuka Jarak Jauh terdapat 2 bentuk , yaitu
v Media Cetak
v Media non Cetak
Media Cetak
Media cetak sebagai media yang relatif ekonomis dan mudah dijangkau mahasiswa diasumsikan sebagi media yang tidak mempunyai kemampuan untuk berinteraksi langsung dengan pesrta ajar. Pada kenyataannya media cetak dapat dikembangkan menjadi media yang interaktif. Interaksi tersebuukan sesuatu yang bert dapat berbentuk pertanyaan beserta latihan, umpan balik, atau meminta peserata ajar untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan materi
Sampai saat ini, Media yang sering digunakan di UT adalah media cetak. Materi ajar dikemas dalam bentuk Buku Materi Pokok ( BMP ).
BMP dan modul didesain dengan memperhatiakan kebutuhan peserta ajar untuk berinteraksi dengan materi ajar. Pemanfaatan system modular mempunyai makna bahwa materi ajar dapat dipelajari bagian per bagian secara runtut dan berkesinambungan. Secara lebih rinci Megger ( 1995 ) mengungkapkan beberapa komponen penting dalam bahan ajar yang mengguanakan system modular . Komponen tersebut antara lain :
1. Deskripsi materi ajar secara menyeluruh ( program picture )
2. Tujuan pembelajar yang akan dicapai (objektif)
3. Manfaat dan relevansi materi ajar ( relevance )
4. Contoh kompetensi yang akan dimiliki setelah mempelajari modul ( demo )
5. materi ajar ( instruction )
6. Umpan balik ( feedback )
7. Cara untuk menguji keterampilan yang telah dipelajari.
Dengan kemampuan berpenampilan demikian, maka wajarlah media cetak mampu berperan sebagai media yang paling banyak digunakan serta mampu mempertahankan peranannya dalam PTJJ. Maka modul disusun dalam systematika sebagai berikut.
1. Halaman sampul ( cover page )
2. Halaman Perancis
3. Daftar isi
4. Tinjauan Mata Kuliah
5. Modul1
1. Pendahuluan
2. Kegiatan Belajar 1
1.
1. Topik
2. Latihan dan Petunjuk jawaban Latihan
3. Rangkuman
4. Tes Formatif dan Feed back
1. Kegiatan Belajar 2 dst
1. Kunci tes formatif
2. Daftar Rujukan
3. Modul 2 dst
Penjelasan singkat fungsi bagian-bagian dalam sistematis tersebut adalah sebagai berikut:
1. Halaman Sampul ( Cover Page )
Halaman sampul memuat informasi kode mata kuliah, jumlah sks untuk mata kuliah tersebut dan jumlah modul dalam BMP tersebut, diikuti oleh nama mata kuliah dan penulis serta tahun vetak BMP.
1. Halaman Perancis
Pada halaman ini tercantum pemegang hak cipta, riwayat percetakan modul, dan KDT ( Katalog Dalam Terbitan). BMP pada perpustakaan UT
1. Daftar Isi
Pada daftar isi, dapat dijumpai urutan materi yang ada dalam BMP disertai halaman dimana mahasiswa dapt menemukan materi tersebut
1. Tinjauan Mata Kuliah
Tinjauan Mata Kuliah memberikan gambaran keseluruhan materi secara sepintas. Pada umumnnya Tinjauan Mata Kuliah berisi deskripsi singkat mata kuliah, kegunaan mata kuliah , bagi mahasiswa susunan materi ( dari awal sampai akhir ). Serta petunjuk bagi mahasiswa untuk mempelajari BMP tersebut.
1. Modul 1
Setiap modul terdiri dari Pendahuluan, beberapa kegiatan belajar ( tergantung topic yang dibahas ), jawaban Tes Formatif dan Daftar Rujukan . Secara umum satu modul membahs satu sampai tiga topic.
1. Pendahuluan
Bagian Pendahuluan berisi deskripsi singkat dari topic yang akan dibahas dalam modul, relevansi topic dengan mata kuliah, dan tujuan instructional yang ditargetkan untuk dicapai oleh mahasiswa. Bagian pendahuluan ini dapat dikatakan versi mini dari tinjauan mata kuliah, bedannya ruang lingkup Pendahuluan hanya mencakup sebagian kecil dari ruang lingkup tinjauan mata kuliah.
1. Kegiatan Belajar
Dalam satu Kegiatan Belajar, mahasiswa akan mendapatkan penjelasan tentang materi yang dilengkapi Latihan, Rangkuman, dan Tes Formatif.
1. Kunci Tes Formatif
Berisi jawaban tes formatif yang dilengkapi dengan penjelasan untuk membantu mahasiswa memahami jawaban yang benar adalah jawaban tertentu.
1. Daftar Rujukan
Daftar rujukan memuat buku dan sumber lain yang digunakan dalam menulis modul yang disusun secara alfabetis
Media Non Cetak
Secara umum, media non cetak dapat dikelompokkan ke dalam audio,video, dan Komputer.Berikut ini penjelasan mengenai ketiga ragam media non cetak :
1. Audio
Dalam hampir semua proses pendidikan, jenis suara yang paling banyak digunakan adalah suara manusia. Dubridge ( 1983 ) menyatakan bahwa suara manusia mempunyai kualitas tertentu yang tidak dimiliki oleh media cetak. Suara manusia mampu memberikan intonasi, tempo, volume, dan penekanan , yang kesemuanya sangat berarti alam proses pembelajaran. Keunggulan yang dimiliki oeh suara manusia ini mampu ditransfer melalui media audio yang dikenal sebagai media yang murah,dan mudah diakses. Dalam sistem pembelajaran jarak jauh, media audio dikategorikan dalam progam audio yang dapat dikemas dalam bentuk program audio kaset dan siaran radio. Walaupun keduannya memiliki kesamaan mulai dari perkembangan naskah sampai dengan produksinya, tetapi keduanya memiliki perbedaan yang jelas. Perbedaan dasar media audio audio kaset dengan media radio adalah dalam hal penggunaan serta fomat penyajian. Dari sisi penggunaanya pada program audio kaset, kendali terletak pada peseta didik. Mereka leluasa untuk menghidupkan, mematikan, mengulang dan mempercepat program yang mereka dengarkan sesuai keinginan mereka. Hal seperti ini tidak terjadi pada siaran radio, dimana peserta didik tidak memliki kendali. Walaupun dikenal sebagi media sederhana, keberadaan media audio kaset dalam sistem pembelajaran jarak jauh dinilai cukup efektif dan banyak disukai.
Menurut Rowntree tahun (1994), format penyajian audio kaset ini, secara garis besar dibedakan dalam 3 bentuk penyajian yaitu :
1. Hanya mendengar
2. Mendengar dan melihat
3. Mendengar, melihat dan melakukan
Program audio kaset yang melibatkan fasilitas untuk melihat atau bahkan melakukan sesuatu mempunyai kekuatan pengajaran yang bersifat interaksi dan lebih mudah diikuti.
Radio merupakan media yang memiliki aksesibilitas tinggi. Radio digunakan karena 2 hal. Biaya produksi yang leboh murah dibandingkan dengan media lain dan kemampuannya dalam menjangkau daerah yang lebih luas dan terpencil.Variabel yang perlu diawspadai dalam penggunaan radio dalam media pembelajaran adalah sifat radio yang transistori, dimana materi ajar yang disiarkan melalui radio cepat berlalu dan mudah dilupakan. Dengan demikian, media radio lebih tepat digunakan untuk menyampaikan materi ajar yang bersifat umum auditif dan konkrit, sehingga lebih mudah diterima. Sementara itu kaset audio dapat dianfaatkan untuk meminimalkan keterbatasan radio.
2.Video
Materi yang dikemas dalam bentuk video ( moving pictures).Denagn atau tanpa suara dapat ditampilkan dalam televisi dan video kaset. Media video / televisi mampu menyajikan pengalaman pada peserta didik, misalnya :
1. Mendemonstrasikan praktikum,eksperimen, materi pelajaran yang bersifat keterampilan,
2. Menyediakan berbagai informasi berdasarkan sumber nyata ( real live resources)
3. Menggantikan kegiatan field study.
3. Media Komputer
Salah satu kelemahan penyelenggaraan sistem PTJJ adalah minimnya umpan balik yang dapat diperoleh peserta didik tentang proses atau hasil belajar yang telah mereka tempuh. Hal ini disebabkan interaksi langsung antara pengajar dan peserta didik relatif rendah.Potensi media komputer yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan efektifitas proses pembelajaran pada sistem PTJJ antara lain :
1. Memungkinkan terjadinya interksi langsung antara peseta didik dan materi pembelajaran.
2. Proses belajar dapat berklangsung secara individual sesuai denga kemampuan belajar peserta didik.
3. Mampu menampilkan unsur audio visual untuk meningkatkan minat belajar (multimedia).
4. Dapat memberikan umpan balik terhadap respon peserta didik denga segera.
5. Mampu menciptakan proses belajar berkesinambungan.
D. Paket Bahan Ajar multimedia
Seperti telah dijelaskan di muka . bahwa media cetak. Memiliki keunggulan untuk digunakan sebagai si]stem pembelajaran jarak jauh. Umumnya media cetak digunakan sebagai berisikan materi utama . sementara media lain berfungsi sebagai media yang menyampaikan materi penjelasan. Proses belajar interaktif dapat dirancang dengan mengkombinasikan dua jenis media yang secara fisik tidak dikenal sebagai media yang memiliki fungsi interaktif. Pada model listening and looking, peserta ajar diberi kesempatan untuk melihat dan atau membaca teks yang secara bersamaan mendengarkan audio kaset. Pada model listening, looking, doing, selain mendengar dan melihat, mahasiswa diperkaya dengan kesempatan untuk mengerjakan sesuatu.
Kesimpulan :
Belajar dapat dilakukan dimana saja.Pembelajaran tidak harus dilakukan secara tatap muka. Kendala jarak dan kendala waktu dapat diatasi dengan Sistem Pembelajaran Jarak Jauh.dan menggunakan media yang tepat.
Referensi:
Dewi Padmo dkk ( editor ).Teknologi pembelajaran, peningkatan kualitas pembelajaran melaui Teknologi pembelajaran, Ciputat: Pusat Teknologi Komunikasikom dan Informasi Pendidikan
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2010
Pemanfaatan Paket Multimedia Dalam Sistem Pembelajaran Jarak Jauh: Pengalaman Universitas Terbuka
Sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, khususnya pada jenjang Perguruan Tinggi memperhatikan hal-hal berikut untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas:
1. kurikulum yang ramping efisien dan efektif, yaitu dengan tujuan kurukuler yang sesuai dengan kebutuhan stakeholders.
2. system pendidikan yang multi entri dan multi exit
3. system pendidikan sepanjang hayat.
4. tutorial yang inheren
5. system alih kredit yang adil dan sistematis
6. system evaluasi yang berkualitas
7. system komunikasi dan informasi yang intergratif
8. penerapan teknologi komunikasi informasi yang canggih dalam pembelajaran
Universitas terbuka atau UT merupakan institusi pendidikan tinggi yang ,menerapkan pendidikan terbuka dan jarak jauh. Pada awal berdirinya, UT menggunakan media cetak sebagai media utama. Pada perkembangannya UT menyadari perlunya dikembangkan bahan ajar yang memungkinkan intensitas interaksi yang lebih tinggi antara mahasiswa dan bahan ajar.
Penyelenggaraan pendidikan dengan sistem jarak jauh (PJJ) tidak dapat dilepaskan dari peran media. Keagan 1991 menekannkan pentingnya penggunaan media dalam PJJ sebagai konsekuensi dari adanya keterpisahan antara sumber belajar dan peserta belajar.
Pengertian dan jenis media
Media adalah alat komunikasi yang digunakan untuk membawa informasi yang dimaksudkan untuk pembelajaran ( Heinich,dkk., 1996 ). Dalam sebuah penyelenggaraan system PTJJ, media merupakan sebuah prasyarat yang diperlukan untuk menjembatani keterpisahan antara pengajar dan perserta didik.
Jenis media dalam Pembelajaran Terbuka Jarak Jauh terdapat 2 bentuk , yaitu
v Media Cetak
v Media non Cetak
Media Cetak
Media cetak sebagai media yang relatif ekonomis dan mudah dijangkau mahasiswa diasumsikan sebagi media yang tidak mempunyai kemampuan untuk berinteraksi langsung dengan pesrta ajar. Pada kenyataannya media cetak dapat dikembangkan menjadi media yang interaktif. Interaksi tersebuukan sesuatu yang bert dapat berbentuk pertanyaan beserta latihan, umpan balik, atau meminta peserata ajar untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan materi
Sampai saat ini, Media yang sering digunakan di UT adalah media cetak. Materi ajar dikemas dalam bentuk Buku Materi Pokok ( BMP ).
BMP dan modul didesain dengan memperhatiakan kebutuhan peserta ajar untuk berinteraksi dengan materi ajar. Pemanfaatan system modular mempunyai makna bahwa materi ajar dapat dipelajari bagian per bagian secara runtut dan berkesinambungan. Secara lebih rinci Megger ( 1995 ) mengungkapkan beberapa komponen penting dalam bahan ajar yang mengguanakan system modular . Komponen tersebut antara lain :
1. Deskripsi materi ajar secara menyeluruh ( program picture )
2. Tujuan pembelajar yang akan dicapai (objektif)
3. Manfaat dan relevansi materi ajar ( relevance )
4. Contoh kompetensi yang akan dimiliki setelah mempelajari modul ( demo )
5. materi ajar ( instruction )
6. Umpan balik ( feedback )
7. Cara untuk menguji keterampilan yang telah dipelajari.
Dengan kemampuan berpenampilan demikian, maka wajarlah media cetak mampu berperan sebagai media yang paling banyak digunakan serta mampu mempertahankan peranannya dalam PTJJ. Maka modul disusun dalam systematika sebagai berikut.
1. Halaman sampul ( cover page )
2. Halaman Perancis
3. Daftar isi
4. Tinjauan Mata Kuliah
5. Modul1
1. Pendahuluan
2. Kegiatan Belajar 1
1.
1. Topik
2. Latihan dan Petunjuk jawaban Latihan
3. Rangkuman
4. Tes Formatif dan Feed back
1. Kegiatan Belajar 2 dst
1. Kunci tes formatif
2. Daftar Rujukan
3. Modul 2 dst
Penjelasan singkat fungsi bagian-bagian dalam sistematis tersebut adalah sebagai berikut:
1. Halaman Sampul ( Cover Page )
Halaman sampul memuat informasi kode mata kuliah, jumlah sks untuk mata kuliah tersebut dan jumlah modul dalam BMP tersebut, diikuti oleh nama mata kuliah dan penulis serta tahun vetak BMP.
1. Halaman Perancis
Pada halaman ini tercantum pemegang hak cipta, riwayat percetakan modul, dan KDT ( Katalog Dalam Terbitan). BMP pada perpustakaan UT
1. Daftar Isi
Pada daftar isi, dapat dijumpai urutan materi yang ada dalam BMP disertai halaman dimana mahasiswa dapt menemukan materi tersebut
1. Tinjauan Mata Kuliah
Tinjauan Mata Kuliah memberikan gambaran keseluruhan materi secara sepintas. Pada umumnnya Tinjauan Mata Kuliah berisi deskripsi singkat mata kuliah, kegunaan mata kuliah , bagi mahasiswa susunan materi ( dari awal sampai akhir ). Serta petunjuk bagi mahasiswa untuk mempelajari BMP tersebut.
1. Modul 1
Setiap modul terdiri dari Pendahuluan, beberapa kegiatan belajar ( tergantung topic yang dibahas ), jawaban Tes Formatif dan Daftar Rujukan . Secara umum satu modul membahs satu sampai tiga topic.
1. Pendahuluan
Bagian Pendahuluan berisi deskripsi singkat dari topic yang akan dibahas dalam modul, relevansi topic dengan mata kuliah, dan tujuan instructional yang ditargetkan untuk dicapai oleh mahasiswa. Bagian pendahuluan ini dapat dikatakan versi mini dari tinjauan mata kuliah, bedannya ruang lingkup Pendahuluan hanya mencakup sebagian kecil dari ruang lingkup tinjauan mata kuliah.
1. Kegiatan Belajar
Dalam satu Kegiatan Belajar, mahasiswa akan mendapatkan penjelasan tentang materi yang dilengkapi Latihan, Rangkuman, dan Tes Formatif.
1. Kunci Tes Formatif
Berisi jawaban tes formatif yang dilengkapi dengan penjelasan untuk membantu mahasiswa memahami jawaban yang benar adalah jawaban tertentu.
1. Daftar Rujukan
Daftar rujukan memuat buku dan sumber lain yang digunakan dalam menulis modul yang disusun secara alfabetis
Media Non Cetak
Secara umum, media non cetak dapat dikelompokkan ke dalam audio,video, dan Komputer.Berikut ini penjelasan mengenai ketiga ragam media non cetak :
1. Audio
Dalam hampir semua proses pendidikan, jenis suara yang paling banyak digunakan adalah suara manusia. Dubridge ( 1983 ) menyatakan bahwa suara manusia mempunyai kualitas tertentu yang tidak dimiliki oleh media cetak. Suara manusia mampu memberikan intonasi, tempo, volume, dan penekanan , yang kesemuanya sangat berarti alam proses pembelajaran. Keunggulan yang dimiliki oeh suara manusia ini mampu ditransfer melalui media audio yang dikenal sebagai media yang murah,dan mudah diakses. Dalam sistem pembelajaran jarak jauh, media audio dikategorikan dalam progam audio yang dapat dikemas dalam bentuk program audio kaset dan siaran radio. Walaupun keduannya memiliki kesamaan mulai dari perkembangan naskah sampai dengan produksinya, tetapi keduanya memiliki perbedaan yang jelas. Perbedaan dasar media audio audio kaset dengan media radio adalah dalam hal penggunaan serta fomat penyajian. Dari sisi penggunaanya pada program audio kaset, kendali terletak pada peseta didik. Mereka leluasa untuk menghidupkan, mematikan, mengulang dan mempercepat program yang mereka dengarkan sesuai keinginan mereka. Hal seperti ini tidak terjadi pada siaran radio, dimana peserta didik tidak memliki kendali. Walaupun dikenal sebagi media sederhana, keberadaan media audio kaset dalam sistem pembelajaran jarak jauh dinilai cukup efektif dan banyak disukai.
Menurut Rowntree tahun (1994), format penyajian audio kaset ini, secara garis besar dibedakan dalam 3 bentuk penyajian yaitu :
1. Hanya mendengar
2. Mendengar dan melihat
3. Mendengar, melihat dan melakukan
Program audio kaset yang melibatkan fasilitas untuk melihat atau bahkan melakukan sesuatu mempunyai kekuatan pengajaran yang bersifat interaksi dan lebih mudah diikuti.
Radio merupakan media yang memiliki aksesibilitas tinggi. Radio digunakan karena 2 hal. Biaya produksi yang leboh murah dibandingkan dengan media lain dan kemampuannya dalam menjangkau daerah yang lebih luas dan terpencil.Variabel yang perlu diawspadai dalam penggunaan radio dalam media pembelajaran adalah sifat radio yang transistori, dimana materi ajar yang disiarkan melalui radio cepat berlalu dan mudah dilupakan. Dengan demikian, media radio lebih tepat digunakan untuk menyampaikan materi ajar yang bersifat umum auditif dan konkrit, sehingga lebih mudah diterima. Sementara itu kaset audio dapat dianfaatkan untuk meminimalkan keterbatasan radio.
2.Video
Materi yang dikemas dalam bentuk video ( moving pictures).Denagn atau tanpa suara dapat ditampilkan dalam televisi dan video kaset. Media video / televisi mampu menyajikan pengalaman pada peserta didik, misalnya :
1. Mendemonstrasikan praktikum,eksperimen, materi pelajaran yang bersifat keterampilan,
2. Menyediakan berbagai informasi berdasarkan sumber nyata ( real live resources)
3. Menggantikan kegiatan field study.
3. Media Komputer
Salah satu kelemahan penyelenggaraan sistem PTJJ adalah minimnya umpan balik yang dapat diperoleh peserta didik tentang proses atau hasil belajar yang telah mereka tempuh. Hal ini disebabkan interaksi langsung antara pengajar dan peserta didik relatif rendah.Potensi media komputer yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan efektifitas proses pembelajaran pada sistem PTJJ antara lain :
1. Memungkinkan terjadinya interksi langsung antara peseta didik dan materi pembelajaran.
2. Proses belajar dapat berklangsung secara individual sesuai denga kemampuan belajar peserta didik.
3. Mampu menampilkan unsur audio visual untuk meningkatkan minat belajar (multimedia).
4. Dapat memberikan umpan balik terhadap respon peserta didik denga segera.
5. Mampu menciptakan proses belajar berkesinambungan.
D. Paket Bahan Ajar multimedia
Seperti telah dijelaskan di muka . bahwa media cetak. Memiliki keunggulan untuk digunakan sebagai si]stem pembelajaran jarak jauh. Umumnya media cetak digunakan sebagai berisikan materi utama . sementara media lain berfungsi sebagai media yang menyampaikan materi penjelasan. Proses belajar interaktif dapat dirancang dengan mengkombinasikan dua jenis media yang secara fisik tidak dikenal sebagai media yang memiliki fungsi interaktif. Pada model listening and looking, peserta ajar diberi kesempatan untuk melihat dan atau membaca teks yang secara bersamaan mendengarkan audio kaset. Pada model listening, looking, doing, selain mendengar dan melihat, mahasiswa diperkaya dengan kesempatan untuk mengerjakan sesuatu.
Kesimpulan :
Belajar dapat dilakukan dimana saja.Pembelajaran tidak harus dilakukan secara tatap muka. Kendala jarak dan kendala waktu dapat diatasi dengan Sistem Pembelajaran Jarak Jauh.dan menggunakan media yang tepat.
Referensi:
Dewi Padmo dkk ( editor ).Teknologi pembelajaran, peningkatan kualitas pembelajaran melaui Teknologi pembelajaran, Ciputat: Pusat Teknologi Komunikasikom dan Informasi Pendidikan
PEMANFAATAN ICT UNTUK PENDIDIKAN PENCEGAHAN HIV/AIDS DI DAERAH PERBATASAN GREATER MEKONG SUBREGION
Jumlah pengidap HIV/AIDS dewasa (15-24 tahun) dan anak-anak diakhir 2003 :
' Kamboja ± 170.000 orang
' Laos ± 1.700 orang
' Thailand ± 570.000 orang
' Vietnam ± 220.000 orang
' Cina dan separuhnya di propinsi Yunan ± 840.000 orang
Dikalangan remaja, HIV sudah menjadi ancaman besar. Diantaranya factor yang mempengaruhi kerentanan masyarakat akan HIV :
F Kurangnya informasi tentang HIV
F Layanan kesehatan dan pendidikan
F Keingintahuan dan coba-coba remaja
F Hubungan seksual paksa dan ketimpangan gender
Mayoritas penduduk kawasan GMS yang miskin sangat rentan akan HIV/AIDS karena ;
S Kurangnya akses ke layanan pendidikan dan kesehatan
S Kemiskinan kurangnya informasi
S Penggunaan obat-obatan
S Perdagangan manusia
S Kurangnya kesempatan kerja bagi para wanita
S keterlibatan mereka dalam perdagangan seks
Sampai saat ini belum ada obat untuk AIDS dan vaksin nya. Karenanya, keberhasilan dalam mengurangi penyebarluasan virus HIV sangat tergantung pada perubahan perilaku dan penanganan factor lingkungan dan social ekonomi yang meningkatkan kerentanan orang akan infeksi. Diantaranya , menunda kegiatan seksual , penekanan khusus pada anak perempuan. Factor lainnya ; menolak tekanan teman agar minum/ menyuntikkan obat-obatan.
Walaupun pemanfaatan ICT dalam pendidikan HIV/AIDS dikarenakan keterbatasan infrastruktur, tenaga terlatih, dan sumber dana pendukung. Atas dasar itulah Bank Pembangunan Asia (ADB), SEAMEO (Southeast Asia Ministry of Education Organization), dan UNESCO mulai Maret 2003 menyelenggarakan program pendayagunaan ICT untk mencegah HIV/AIDS diperbatasan GMS .
PERAN PENDIDIKAN PENCEGAHAN
Semua Negara yang telibat dalam pencegahan HIV/AIDS dilingkungan sekolah, memiliki kebijakan Departemen Pendidikan serta perangkat hukum pun mendukung pelaksanaannya.
Di Kamboja kebijakan dan strategi pengintegrasian HIV/AIDS untuk remaja di lingkungan maupun luar sekolah dimasukkan dalam Renstra Pendidikan Departemen Pendidikan, Pemuda dan Olah raga yang mereka selenggarakan.
Di Vietnam keputusan Departemen Pendidikan dan Pelatihan menegaskan pentingnya pendidikan pencegahan HIV/AIDS.
Di Yunan peraturannya mensyaratkan semua sekolah melaksanakan pendidikan pencegahan HIV/AIDS.
Di Laos, sebuah tim pendidikan AIDS didalam Departemen Pendidikan telah dibentuk tahun 1996 dan bertanggung jawab atas pelaksanaan pendidikan pencegahan menyusul dibentuknya komisi nasional untuk pengontrolan AIDS .
Di Thailand kebijakan Departemen Pendidikannya menekankan hak setiap anak memahami dan menyadari bahaya HIV/AIDS.
PEMANFAATAN ICT
Sebelum adanya program ICT , semua Negara GMS belum didayagunakan secara maksimal. Diyakini bahwa ICT akan mampu menjawab dua tantangan pokok dalam pendidikan pencegahan : meningkatkan lingkungan dan metode belajar-mengajar serta memungkinkan dikembangkannya bahan-bahan ajar yang sesuai pada saat pelaksanaan program dengan dana yang terbatas.
Pemanfaatan ICT dapat meningkatkan proses belajar dan mengajar. Intervensi berbasis ICT yang tepat sasaran, kreatif, interaktif, integrative, dan kontekstual dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar mengajar.
Bahan-bahan ajar pendidikan berbasis ICT dapat disimpan disekolah agar siap pakai sesuai dengan kebutuhan dan memungkinkan keluwesan dalam pemakaian serta belajar sesuai kecepatan diri.
ICT telah merangsang belajar kawasan kognitif tingkat tinggi seperti pemecahan masalah melalui tugas-tugas kreatif yang melibatkan semua siswa baik didalam kegiatan maupun diluar sekolah.
PROGRAM SEAMEO-ADB
Sebagai bagian dari bantuan tekniis regional, untuk meningkatkan SDM dan kemiskinan di GMS, ADB memberi bantuan senilai $1,000,000 untuk menunjang pemanfaatan ICT HIV/AIDS di daerah perbatasan GMS dalam jangka waktu 18 bulan terhitung Maret 2003.
SEAMEO dan UNESCO masing-masing mendanakan $500,000. Kesepakatan SEAMEO dan ADB ditandatangani pada 7 Maret 2003 ,Manila.
TUJUAN
Bantuan teknis ADB memiliki tujuan pokok ;
C mengurangi terjadinya infeksi HIV/AIDS diantara kelompok usia rentan, kelompok miskin, penduduk pinggiran.
C memasyarakatkan pemanfaatan ICT serta teknologi multimedia lainnya dalam pendidikan pencegahan HIV/AIDS
Secara khusus program kerjasama ini dimaksudkan untuk :
@ Mengembangkan bahan-bahan ajar pendidikan pencegahan HIV/AIDS dalam bahasa daerah setempat
@ Meningkatkan kemampuan para guru, penyuluh kesehatan, pembuat program multimedia, dan pemangku peran dalam pendidikan pencegahan HIV/AIDS
@ Memperluas pemanfaatan ICT dalam pendidikan pencegahan HIV/AIDS
@ Menyampaikan program pencegahan yang berbasis ICT kepada masyarakat yang terisolir, terpinggirkan dan rentan
Komponen SEAMEO berfokus pada guru dan remaja di sekolah dan secara tak langsung menggarap masyarakat tempat sekolah yang dipilih berbeda. komponen ini dilaksanakan di 9 daerah perbatasan antara ke 5 negara yang berperanserta. Ada 36 SMP yang menjadi garapan program ini, masing-masing 2 sekolah di setiap wilayah perbatasan.
KOMPONEN PROGRAM & SASARAN
Ada 4 komponen program yaitu ;
ü Pengembangan bahan ajar
Bahan-bahan ajar yang dikembangkan ini menjawab tuga permasalahan yang terkait satu sama lain yaitu perilaku rawan HIV/AIDS, perdagangan perempuan dan anak-anak serta penyalahangunaan obat-obatan di kalangan minoritas yang tinggal di perbatasan.
ü Pengembangan kemampuan
Kelompok-kelompok remaja dan wanita masyarakat yang memberikan dukungan lanjutan setelah sasaran menerima program pencegahan di sekolah.
ü Penyampaian program
Melalui kurikulum dan kegiatan pembelajaran di sekolah dengan guru sebagai agen perubahan dan penggerak masyarakat.
ü Database
Target sasaran program ini adalah 8,000 remaja usia sekolah (13-24 th) di daerah perbatasan GMS, selain itu remaja luar sekolah dan kelompok resiko tinggi seperti ; supir truk, PSK.
ANALISIS SITUASI SEKOLAH DAN LAPANGAN
Masing-masing negara memberikan sajian situasi mutakhir HIV/AIDS dengan fokus ke daerah perbatasan serta kelompok sasaran (anak sekolah, etnis minoritas, masyarakat terpencil, dan susah dijangkau);
pendidikan pencegahan yang meliputi program secara umum, strategi pokoknya, cakupan, bahan yang digunakan dan tantangan yang dihadapi; kondisi infrastruktur ICT yang ada terutama di daerah perbatasan, kebijakan, dan rencana pengembangan ICT serta pemanfaatan ICT yang telah ada.
Pelatihan
Pelatihan di tingkat sekolah dan nasional selanjutnya dilaksanakan, dengan :
• Cara-cara penularan dan pencegahan infeksi HIV/AIDS
• Metode pembelajaran efektif dengan cara inovatif dalam berbasis ICT diajarkan
• Diarahkan untuk membuat bahan ajar dalam Proses Belajar
• Pelatihan Infrastruktur ICT juga ditingkatkan
Pelajaran apa yang dapat dipetik dari program ini?
¥ Program ini telah berhasil mempererat kerjasama antar sektor pendidikan dan kesehatan mulai dari tingkat kabupaten, propinsi hingga nasional. Koordinasi yang semula sulit diwujudkan dengan model yang diberikan program ini mulai kelihatan tumbuh di sebagian besar lokasi.
¥ Dukungan dan kerjasama berbagai pihak terkait sangat menentukan keberhasilan program ini. Peran serta dan komitmen orangtua dan pemuka masyrakat mulai dari saat persiapan program hingga pelaksanaan sangat mempermudah pencapaian tujuan program ini.
¥ Hubungan sekolah dan masyrakat yang erat memungkinkan apa yang dihasilkan dan digunakan di sekolah juga dimanfaatkan untuk pembelajaran teman sebaya di masyrakat.
¥ Program ini juga telah memberi model pengintegrasian pendidikan pencegahan HIV/AIDS berbasis ICT ke dalam kurikulum sekolah tanpa terlalu banyak menambah jam pelajaran.
¥ Pendidikan pencegahan HIV/AIDS sangat diperlukan oleh masyarakat miskin dan terpinggirkan terutama yang tinggal di daerah perbatasan.
' Kamboja ± 170.000 orang
' Laos ± 1.700 orang
' Thailand ± 570.000 orang
' Vietnam ± 220.000 orang
' Cina dan separuhnya di propinsi Yunan ± 840.000 orang
Dikalangan remaja, HIV sudah menjadi ancaman besar. Diantaranya factor yang mempengaruhi kerentanan masyarakat akan HIV :
F Kurangnya informasi tentang HIV
F Layanan kesehatan dan pendidikan
F Keingintahuan dan coba-coba remaja
F Hubungan seksual paksa dan ketimpangan gender
Mayoritas penduduk kawasan GMS yang miskin sangat rentan akan HIV/AIDS karena ;
S Kurangnya akses ke layanan pendidikan dan kesehatan
S Kemiskinan kurangnya informasi
S Penggunaan obat-obatan
S Perdagangan manusia
S Kurangnya kesempatan kerja bagi para wanita
S keterlibatan mereka dalam perdagangan seks
Sampai saat ini belum ada obat untuk AIDS dan vaksin nya. Karenanya, keberhasilan dalam mengurangi penyebarluasan virus HIV sangat tergantung pada perubahan perilaku dan penanganan factor lingkungan dan social ekonomi yang meningkatkan kerentanan orang akan infeksi. Diantaranya , menunda kegiatan seksual , penekanan khusus pada anak perempuan. Factor lainnya ; menolak tekanan teman agar minum/ menyuntikkan obat-obatan.
Walaupun pemanfaatan ICT dalam pendidikan HIV/AIDS dikarenakan keterbatasan infrastruktur, tenaga terlatih, dan sumber dana pendukung. Atas dasar itulah Bank Pembangunan Asia (ADB), SEAMEO (Southeast Asia Ministry of Education Organization), dan UNESCO mulai Maret 2003 menyelenggarakan program pendayagunaan ICT untk mencegah HIV/AIDS diperbatasan GMS .
PERAN PENDIDIKAN PENCEGAHAN
Semua Negara yang telibat dalam pencegahan HIV/AIDS dilingkungan sekolah, memiliki kebijakan Departemen Pendidikan serta perangkat hukum pun mendukung pelaksanaannya.
Di Kamboja kebijakan dan strategi pengintegrasian HIV/AIDS untuk remaja di lingkungan maupun luar sekolah dimasukkan dalam Renstra Pendidikan Departemen Pendidikan, Pemuda dan Olah raga yang mereka selenggarakan.
Di Vietnam keputusan Departemen Pendidikan dan Pelatihan menegaskan pentingnya pendidikan pencegahan HIV/AIDS.
Di Yunan peraturannya mensyaratkan semua sekolah melaksanakan pendidikan pencegahan HIV/AIDS.
Di Laos, sebuah tim pendidikan AIDS didalam Departemen Pendidikan telah dibentuk tahun 1996 dan bertanggung jawab atas pelaksanaan pendidikan pencegahan menyusul dibentuknya komisi nasional untuk pengontrolan AIDS .
Di Thailand kebijakan Departemen Pendidikannya menekankan hak setiap anak memahami dan menyadari bahaya HIV/AIDS.
PEMANFAATAN ICT
Sebelum adanya program ICT , semua Negara GMS belum didayagunakan secara maksimal. Diyakini bahwa ICT akan mampu menjawab dua tantangan pokok dalam pendidikan pencegahan : meningkatkan lingkungan dan metode belajar-mengajar serta memungkinkan dikembangkannya bahan-bahan ajar yang sesuai pada saat pelaksanaan program dengan dana yang terbatas.
Pemanfaatan ICT dapat meningkatkan proses belajar dan mengajar. Intervensi berbasis ICT yang tepat sasaran, kreatif, interaktif, integrative, dan kontekstual dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar mengajar.
Bahan-bahan ajar pendidikan berbasis ICT dapat disimpan disekolah agar siap pakai sesuai dengan kebutuhan dan memungkinkan keluwesan dalam pemakaian serta belajar sesuai kecepatan diri.
ICT telah merangsang belajar kawasan kognitif tingkat tinggi seperti pemecahan masalah melalui tugas-tugas kreatif yang melibatkan semua siswa baik didalam kegiatan maupun diluar sekolah.
PROGRAM SEAMEO-ADB
Sebagai bagian dari bantuan tekniis regional, untuk meningkatkan SDM dan kemiskinan di GMS, ADB memberi bantuan senilai $1,000,000 untuk menunjang pemanfaatan ICT HIV/AIDS di daerah perbatasan GMS dalam jangka waktu 18 bulan terhitung Maret 2003.
SEAMEO dan UNESCO masing-masing mendanakan $500,000. Kesepakatan SEAMEO dan ADB ditandatangani pada 7 Maret 2003 ,Manila.
TUJUAN
Bantuan teknis ADB memiliki tujuan pokok ;
C mengurangi terjadinya infeksi HIV/AIDS diantara kelompok usia rentan, kelompok miskin, penduduk pinggiran.
C memasyarakatkan pemanfaatan ICT serta teknologi multimedia lainnya dalam pendidikan pencegahan HIV/AIDS
Secara khusus program kerjasama ini dimaksudkan untuk :
@ Mengembangkan bahan-bahan ajar pendidikan pencegahan HIV/AIDS dalam bahasa daerah setempat
@ Meningkatkan kemampuan para guru, penyuluh kesehatan, pembuat program multimedia, dan pemangku peran dalam pendidikan pencegahan HIV/AIDS
@ Memperluas pemanfaatan ICT dalam pendidikan pencegahan HIV/AIDS
@ Menyampaikan program pencegahan yang berbasis ICT kepada masyarakat yang terisolir, terpinggirkan dan rentan
Komponen SEAMEO berfokus pada guru dan remaja di sekolah dan secara tak langsung menggarap masyarakat tempat sekolah yang dipilih berbeda. komponen ini dilaksanakan di 9 daerah perbatasan antara ke 5 negara yang berperanserta. Ada 36 SMP yang menjadi garapan program ini, masing-masing 2 sekolah di setiap wilayah perbatasan.
KOMPONEN PROGRAM & SASARAN
Ada 4 komponen program yaitu ;
ü Pengembangan bahan ajar
Bahan-bahan ajar yang dikembangkan ini menjawab tuga permasalahan yang terkait satu sama lain yaitu perilaku rawan HIV/AIDS, perdagangan perempuan dan anak-anak serta penyalahangunaan obat-obatan di kalangan minoritas yang tinggal di perbatasan.
ü Pengembangan kemampuan
Kelompok-kelompok remaja dan wanita masyarakat yang memberikan dukungan lanjutan setelah sasaran menerima program pencegahan di sekolah.
ü Penyampaian program
Melalui kurikulum dan kegiatan pembelajaran di sekolah dengan guru sebagai agen perubahan dan penggerak masyarakat.
ü Database
Target sasaran program ini adalah 8,000 remaja usia sekolah (13-24 th) di daerah perbatasan GMS, selain itu remaja luar sekolah dan kelompok resiko tinggi seperti ; supir truk, PSK.
ANALISIS SITUASI SEKOLAH DAN LAPANGAN
Masing-masing negara memberikan sajian situasi mutakhir HIV/AIDS dengan fokus ke daerah perbatasan serta kelompok sasaran (anak sekolah, etnis minoritas, masyarakat terpencil, dan susah dijangkau);
pendidikan pencegahan yang meliputi program secara umum, strategi pokoknya, cakupan, bahan yang digunakan dan tantangan yang dihadapi; kondisi infrastruktur ICT yang ada terutama di daerah perbatasan, kebijakan, dan rencana pengembangan ICT serta pemanfaatan ICT yang telah ada.
Pelatihan
Pelatihan di tingkat sekolah dan nasional selanjutnya dilaksanakan, dengan :
• Cara-cara penularan dan pencegahan infeksi HIV/AIDS
• Metode pembelajaran efektif dengan cara inovatif dalam berbasis ICT diajarkan
• Diarahkan untuk membuat bahan ajar dalam Proses Belajar
• Pelatihan Infrastruktur ICT juga ditingkatkan
Pelajaran apa yang dapat dipetik dari program ini?
¥ Program ini telah berhasil mempererat kerjasama antar sektor pendidikan dan kesehatan mulai dari tingkat kabupaten, propinsi hingga nasional. Koordinasi yang semula sulit diwujudkan dengan model yang diberikan program ini mulai kelihatan tumbuh di sebagian besar lokasi.
¥ Dukungan dan kerjasama berbagai pihak terkait sangat menentukan keberhasilan program ini. Peran serta dan komitmen orangtua dan pemuka masyrakat mulai dari saat persiapan program hingga pelaksanaan sangat mempermudah pencapaian tujuan program ini.
¥ Hubungan sekolah dan masyrakat yang erat memungkinkan apa yang dihasilkan dan digunakan di sekolah juga dimanfaatkan untuk pembelajaran teman sebaya di masyrakat.
¥ Program ini juga telah memberi model pengintegrasian pendidikan pencegahan HIV/AIDS berbasis ICT ke dalam kurikulum sekolah tanpa terlalu banyak menambah jam pelajaran.
¥ Pendidikan pencegahan HIV/AIDS sangat diperlukan oleh masyarakat miskin dan terpinggirkan terutama yang tinggal di daerah perbatasan.
TEKNOLOGI PENDIDIKAN UNTUK MENINGKATKAN KINERJA
A. DEFINISI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
AECT (Association for Educational and Communications and Technology),2004. Teknologi Pendidikan adalah :
Educational technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources.(Teknologi Pendidikan adalah studi dan etika praktek untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya teknologi.)
Definisi ini mengandung beberapa elemen kunci,yaitu :
· Studi. Pemahaman teoritis, sebagaimana dalam praktek teknologi pendidikan memerlukan konstruksi dan perbaikan pengetahuan yang berkelanjutan melalui penelitian dan refleksi praktek, yang tercakup dalam istilah studi.
· Etika Praktek. Mengacu kepada standard etika praktis sebagaimana didefinisikan oleh Komite Etika AECT mengenai apa yang harus dilakukan oleh praktisi Teknologi Pendidikan.
· Fasilitasi. Pergeseran paradigma kearah kepemilikan dan tanggung jawab pembelajar yang lebih besar telah merubah peran teknologi dari pengontrol menjadi pem-fasilitasi.
· Pembelajaran. Pengertian pembelajaran saat ini sudah berubah dari beberapa puluh tahun yang lalu. Pembelajaran selain berkenaan dengan ingatan juga berkenaan dengan pemahaman.
· Peningkatan. Peningkatan berkenaan dengan perbaikan produk, yang menyebabkan pembelajaran lebih efektif, perubahan dalam kapabilitas, yang membawa dampak pada aplikasi dunia nyata.
· Kinerja. Kinerja berkenaan dengan kesanggupan pembelajar untuk menggunakan dan mengaplikasikan kemampuan yang baru didapatkannya.
B. TEKNOLOGI KINERJA
Dalam teknologi kinerja, kami menggunakan definisi TP menurut Association for Educational Communications and Technology atau disingkat AECT 2004, sebagai landasan, karena didalam definisi tersebut menerangkan bahwa “the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources.” Ini adalah definisi terbaru yang menyatakan bahwa teknologi pendidikan adalah studi dan praktek etis dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan/memanfaatkan, dan mengelola proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat. Jelas, tujuan utamanya yaitu untuk:
a) Memecahkan masalah belajar atau memfasilitasi pembelajaran agar efektif, efisien dan menarik
b) Meningkatkan kinerja.
C. TEKNOLOGI PENDIDIKAN UNTUK MENINGKATKAN KINERJA
Dalam teknologi pendidikan improving performance atau diterjemahkan sebagai meningkatkan kinerja lebih sering merujuk pada suatu pernyataan mengenai keefektifan; bisa merupakan cara-cara yang diharapkan membawa hasil yang berkualitas, produk yang diharapkan dapat menciptakan proses belajar yang efektif, dan perubahan-perubahan kompetensi yang dapat diterapkan di dunia nyata. Makna belajar itu pun menhBelajar merupakan suatu rangkaian proses interpretasi berdasarkan pengalaman yang telah ada, interpretasi tersebut kemudian dicocokan pengalaman-pengalaman baru.
Efektif sering kali berdampak pada efisiensi, yaitu hasil yang dicapai dengan penggunaan waktu, tenaga, dan biaya seminim mungkin. Namun apa yang dimaksud dengan efisien sangatlah tergantung pada tujuan yang hendak dicapai. Efisiensi dalam gerakan pengembangan instruksional sistematis didefinisikan sebagai menolong peserta didik mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya yang diukur dengan evaluasi terstruktur (tes, ulangan, dsb). Oleh sebab itu proses kegiatan belajar dilakukan dengan tahapan-tahapan yang sistematis. Pandangan ini berbeda dengan pendekatan cara belajar konstruktivis. Cara pandang konstruktivis menekankan pada posisi peserta didiklah yang menentukan tujuan mereka sendiri dan bagian apa yang hendak dipelajari. Belajar yang benar dan berhasil adalah apabila ilmu pengetahuan dapat dipahami secara mendalam, dialami, dan diterapkan untuk mengatasi masalah-masalah di dunia nyata, bukan berdasar hasil ujian atau ulangan. Konstruktivisme cenderung mempersoalkan perancangan lingkungan belajar daripada pentahapan kegiatan pembelajaran. Lingkungan belajar ini merupakan konsteks yang kaya, baik dari landasan pengetahuan, masalah yang otentik, dan perangkat yang digunakan untuk memecahkan masalah. Itulah sebabnya efisiensi tergantung pada apa tujuan yang hendak dicapai dalam proses belajar.
Sementara kata performance atau kinerja merujuk pada dua hal yang saling berkesinambungan:
a) Kemampuan peserta didik untuk menggunakan dan mengaplikasikan kompetensi baru yang telah dicapainya; bukan sekedar mendapat pengetahuan kemudian stagnan, namun pengetahuan itu meningkatkan kompetensi dan kompetensi tersebut dapat diaplikasikan secara nyata.
b) Selain menolong peserta didik memiliki kompetensi yang lebih baik, alat dan ide-ide teknologi pendidikan dapat membantu para guru maupun perancang pembelajaran menjadi tenaga pendidik yang lebih mumpuni. Hasilnya mereka dapat menolong berbagai institusi mencapai tujuan dengan lebih baik.
Itulah mengapa teknologi pendidikan menyatakan dirinya sebagai salah satu bidang yang punya kemampuan untuk meningkatkan produktifitas pada level individu yaitu peserta didik dan tenaga pendidik hingga level organisasi.
Dalam tulisan Molenda dan Pershing makna peningkatan performa atau kinerja dibatasi pada keterlibatan teknologi dalam bidang pendidikan semata. Artinya bahwa teknologi dapat meningkatkan peran pendidikan untuk memperbaiki kinerja dan kualitas manusia.
A. Peningkatan Kinerja Peserta Didik Sebagai Pribadi
Pembelajaran dewasa ini menghadapi dua tantangan. Tantangan pertama, adanya perubahan persepsi tentang belajar itu sendiri dan tantangan kedua adanya teknologi informasi dan telekomunikasi yang memperlihatkan perkembangan yang sangat luar biasa. Dalam kerangka pembelajaran individual, teknologi pendidikan sebagai sebuah studi berupaya untuk meningkatan kinerja atau performa peserta didik melalui beberapa cara yaitu:
1. Memberi pengalaman belajar bernilai lebih dengan difokuskan pada tujuan yang hendak dicapai, bukan sekedar keberhasilan melewati serangkaian test terstruktur.
2. Alih-alih menghafal pelajaran, melalui pemanfaatan teknologi pengalaman-pengalaman belajar yang didapat diharapkan dapat membawa pada tingkat pemahaman yang lebih dalam. Jika proses belajar ini dibuat lebih bernilai dengan mendesainnya sedemikian rupa, maka pengetahuan dan kompetensi yang baru dapat tertransfer lebih baik lagi.
Individual learning atau pembelajaran individual dapat diartikan “the ability of individuals to experience personal growth in their interactions with the world around them.” (www.ask.com). Melalui pembelajaran individual peserta didik langsung mengalami apa yang dipelajarinya, membangun sebuah pemahaman dengan model self-discovery sehingga penghayatan akan makna pelajaran menjadi lebih dalam tertanaman. Ada sebuah pepatah Cina kuno yang mengatakan
“Apa yang saya dengar, saya lupa; apa yang saya lihat, saya ingat;
Apa yang saya lakukan, saya paham.”
Pembelajaran bernilai lebih yang dimaksud oleh teknologi pendidikan adalah bahwa melalui aplikasi teknologi dalam bidang pendidikan:
1. Tujuan pembelajaran yang berfokus pada tes atau ujian yang sifatnya sangat dangkal dapat diubah. Artinya bahwa pembelajaran bagi siswa bukanlah sekedar menggali kemampuan kognitif, apalagi pada tingkat kognitif yang rendah yaitu pengetahuan dan pemahaman. Tujuan pembelajaran yang sekedar “berhasil dalam ujian” sudah pasti tidak memberikan peningkatan performa pada peserta didik.
2. Pengabaian pendidikan akan adanya multiple intelegensi pada peserta didik dapat dihindari. Menurut Howard Gardner, hakikatnya terdapat 7 tipe intelegensia anak (manusia secara umum), namun di sekolah hanya 2 tipe yang dimasukkan dalam intrakurikuler yaitu kemampuan berbahasa dan logika matematika. Sementara 5 intelegensia yaitu musik, kemampuan spasial, kinestetik, interpersonal, dan intrapersonal hanya merupakan tambahan. Konsekuensinya, output pembelajaran dalam pendidikan formal cenderung diasosiasikan dengan ilmu pengetahuan yang sempit, terbatas, dan pada tingkat yang redah.
3. Pembelajaran dapat merambah pada semua tingkat atau ranah kemampuan peserta didik yang semestinya baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik (taksonomi Bloom). Oleh karenanya salah satu cara yang diusahakan oleh teknologi pendidikan untuk meningkatkan kinerja peserta didik adalah melalui praktek-praktek design pembelajaran (pendekatan ID sistematis - Morrison)a ang mengarahkan perencana pembelajaran berpikir tentang berbagai outcome pembelajaran dan mengklarifikasi pada level apa tipe pembelajaran yang diharapkan. Jika saja keadaan ini tercipta maka peserta didik lebih dapat menikmati pengalaman aktifitas-aktifitas belajar dan metode penilaian yang sesuai dengan kebutuhan belajar, bukan sekedar ujian yang terstandarisasikan.
4. Kedalaman pembelajaran lebih mungkin dicapai. Hal ini untuk mengatasi apa yang sering terjadi dalam proses belajar yaitu belajar untuk menghafal. Weigel mengemukakan istilah pembelajaran di permukaan (surface learning) dan pembelajaran mendalam (deep learning) untuk memberikan perbedaan tujuan yang menyolok. Surface learning diwakilkan oleh kebiasaan penghafalan fakta, memperlakukan materi sebagai bagian-bagian informasi yang tidak berkaitan, dan melakukan prosedur rutin tanpa berpikir. Sebaliknya tujuan deep learning adalah mendorong peserta didik mengaitkan ide-ide dengan pengetahuan yang sudah didapat, mencari pola-pola utama, mempelajari pernyataan-pernyataan yang ada secara kritis, dan merefleksikannya dengan pemahaman mereka sendiri. Deep learning dapat terjadi dalam komunitas pembelajar yang berorientasi pada penyelidikan (inquiry-oriented). Komunitas ini bisa tercipta melalui aplikasi teknologi informasi dengan memanfaatkan web berbasis jaringan kerja seperti blog.
5. Terjadi transfer pembelajaran dalam dunia pendidikan formal. Diakui bahwa teknologi dapat membantu siswa memiliki kemampuan yang tinggi, sekaligus menerapkan pengetahuan baru di luar ruang kelas. Artinya bahwa dengan teknologi transfer ilmu pengetahuan tidak terbatas semata dalam ruang kelas melalui design pembelajaran (disebut sebagai soft technology) yang disusun pengajar, namun juga melalui hard technology yaitu penciptaan dan pemanfaatan lingkungan dimana pembelajar dapat mempraktekan pengetahuan dan kemampuannya dalam dunia nyata.
Teknologi pendidikan tidak hanya bergerak di persekolahan tapi juga dalam semua aktifitas manusia (seperti perusahaan, keluarga, organisasi masyarakat, dll) sejauh berkaitan dengan upaya memecahkan masalah belajar dan peningkatan kinerja. Oleh karena kinerja peserta didik baik di sekolah maupun di tempat kerja dapat ditingkatkan melalui penggunaan teknologi teknologi lunak seperti desain pembelajaran (ID) dan hard-tech, juga penciptaan dan pemanfaatan lingkungan di mana peserta didik dapat mempraktekkan dan mengaplikasi ilmu pengetahuan yang didapat dalam dunia nyata.
B. Peningkatan Kinerja Guru dan Para Perancang Pembelajaran
Aplikasi teknologi dalam bidang pendidikan dapat menolong para tenaga pengajar menciptakan proses belajar yang lebih menarik dan bernilai manusiawi. Teknologi pendidikan bagi pengajar memiliki manfaat luar biasa terutama dalam meminimalisir waktu pembelajaran dan meningkatkan efektifitas yang pada akhirnya dapat menambah produktifitas tenaga pengajar.
Beberapa langkah yang bisa digunakan untuk memperbaiki kinerja guru dan perancang desain pembelajaran adalah seperti penjelasan singkat berikut ini.
1. Mengurangi waktu pembelajaran.
TP memberikan wawasan untuk membantu para guru dan para desainer(trainer) mengurang waktu yang tidak efisien dalam pembelajaran melalui prosedur prosedur khusus dalam analisa kebutuhan dan analisa pembelajaran Melalui prosedur ini mengetahui apa yang menjadi tujuan pasti Dari tujuan pasti dari proses pembelajaran (penyampaian materi) dngan tujuan itu lah proyek pembelajarn di mulai. Konsekuensinya guru dan para desainer mengurangi waktu pembelajaan yang tidak efektif untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
2. Menciptakan pembelajaran yang lebih menguntungkan dari segi biaya.
Desain pembelajaran yang sistemasis menolong para perencana pembelajaran mencapai hasil yang luar biasa menguntungkan.
3. Menciptakan pembelajan yang ramah. pembelajaran lebih menarik.
Yang dimaksut dengan menarik disini sangat variasi tergantung kasus per kasus, tetapi secara umum pembelajaran yang menarik memiliki beberapa pengertian:
A. Menantang, memberikan ekspetasi yang tinggi.
B. Memiliki kesesuaian dengan pengalaman peserta didik di masa lalu dan dimasa yang akan datang.
C. Ada unsur humor dan permainan dalam pembelajaran.
D. Mempertahankan perhatian siswa melalui hal-hal yang baru.
E. Terlibat secara intelektual dan emosional.
F. Menggunakan berbagai bentuk penyajian.
Teknologi Pendidikan (TP) mempunyai sejarah panjang yang sangat menarik. Banyak inovasi-inovasi pembelajaran yang diinspirasi dari teroi kognitifisme, konstruktifisme, seperti problem base lerning yang didisaen untuk meningkatkan peserta belajar yang disampaikan oleh pengajar.
4. Menghormati nilai-nilai kemanusiaan.
Banyak inovasi didalam Teknologi Pendidikan (TP) yang berfokuskan dalam nilai-nilai kemanusiaan. Artinya murid adalah orang yang tidak dijejali ilmu saja atau dengan kata lain adalah memanusiakan murid. Hal ini sesuai dengan bentuk inovasi yang dibuat dengan melihat murid dari segi behaviourisme. Secara singkat dapat di samapikan bahwa hasil inovasi Teknologi Pendidikan (TP) menempatkan peserta didik sebagai pemegang control dalam proses pembelajaran.
C. Peningkatan Kinerja Organisasi
Pada awalnya teknologi diadopsi oleh organisasi adalah untuk meningkatkan produktifitas organisasi, terutama untuk memangkas biaya dan meningkatkan hasil. Itulah yang menjadi tujuan pemanfaatan teknologi di dunia bisnis dan industri. Namun tujuan ekonomis seperti ini boleh dikata kurang populer di organisasi atau lembaga pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi. Oleh sebab itu perlu dikaji lebih dalam lagi beberapa kemungkinan peran teknologi dalam meningkatkan produktifitas di organisasi pendidikan.
1. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas
Efisiensi adalah doing things right (dengan benar) dan efektifitas adalah doing the right things (yang benar). Dalam dunia pendidikan kata efisiensi bisa dipandang sebagai rancangan, pengembangan, dan melakukan pembelajaran dnegan cara memanfaatkan sumber-sumber sekecil mungkin untuk mencapai hasil yang, paling tidak, sama atau lebih baik. Sementara kata efektifitas berarti melakukan perbuatan yang memang benar-benar bisa menolong peserta didik mencapai tujuan pembelajaran yaitu menguasai pengetahuan, punya keahlian, dan terjadi perubahan sikap. Kita membutuhkan keduanya. Pembelajaran yang efisien menjadi kehilangan makna jika tidak bisa mencapai tujuan pembelajaran. Sementara itu pembelajaran yang menghasilkan hasil belajar yang diinginkan tetapi boros penggunaan biaya, tidak tepat waktu, atau tidak punya dampak menghasilkan lulusan yang tepat guna sama dengan pembelajaran yang tidak produktif.
2. Sebuah perspektif sistem bagi kinerja organisasi
Dalam pendidikan kalimat “hasil yang diinginkan” bisa bermakna berbeda sesuai dengan persepsi masing-masing orang. Oleh sebab itu perlu sebuah pengukuran what goals are worth pursuing and what indicators should be used to measure progress toward those goals” (hal.65). Banyak perdebatan yang dilakukan oleh ilmuwan pendidikan apakah memang ukuran keberhasilan yang dipakai oleh organisasi-organisasi bisnis dan industri (ekonomi) bisa dengan begitu saja diterapkan dalam organisasi pendidikan. Terlepas dari hal tersebut, pendekatan atau cara pandang sistem, secara total dan menyeluruh dapat membantu organisisi atau institusi pendidikan mendefinisikan dan mencapai tujuan yang berharga (output) dengan proses pembelajaran yang seefisien dan seefektif mungkin.
Esensi dari pendekatan sistem adalah melangkah ke belakang dan mencatat faktor apa saja yang terjadi di sekitar dan mempengaruhi kejadian-kejadian dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Dengan melihat kondisi pembelajaran di kelas maka dapat diperoleh pemahaman lingkungan apa yang seharusnya diciptakan untuk mendukung strategi pembelajaran yang lebih berdampak.
Organisasi dapat meningkatkan produktifitas komponen yang ada di dalamnya, terutama faktor SDM nya dengan menolong mereka memperoleh pengetahuan yang baru, keahlian baru, dan menciptakan sikap baru yang lebih positif. Namun ada usaha lain yang lebih mendalam yaitu dengan mengubah kondisi-kondisi di dalam organisasi sehingga orang lebih dapat memiliki performa kerja lebih baik lagi untuk mencapai tujuan organisasi, dengan atau tanpa pembelajaran tambahan. Usaha perbaikan kinerja yang sifatnya noninstructional intervention seperti mencipatkan kondisi kerja yang lebih baik, alat kerja yang lebih memadai, dan memotivasi pekerja menjadi lebih giat dilabelkan sebagai HPT atau human performance improvement atau Teknologi Kinerja Manusia. Keseluruhan intervensi yang bersifat instruksional dan noninstruksional dalam organisasi merupakan usaha untuk mengembangkan atau meningkatkan kinerja organisasi.
3. HPT
HPT atau Teknologi Kinerja Manusia menurut Pershing adalah “the study and ethical practice of improving productivity in organizations by designing and developing effective interventions that are result-oriented, comprehensive, and systemic.” HPT merupakan seperangkat metode, prosedur, dan strategi untuk memecahkan masalah dalam kerangka organisasi. Sesuai dengan namanya maka HPT bersentuhan langsung dengan potensi manusia sebagai sumber daya kerja dalam organisasi. Penanganan performa SDM dengan baik akan dapat meningkatkan kualitas kinerja organisasi. Bagaimana departemen Human Resource atau Personalia mengelola karyawan untuk meningkatkan efektifitas kerja mereka adalah bidang yang ditangani oleh HPT. Intinya HPT mengkaji tentang upaya-upaya untuk meningkatkan kinerja orang dalam suatu organisasi melalui pendekatan yang sistematis, sistematis dan ilmiah. Para teknolog kinerja tidak selalu merancang intervensi pembelajaran sebagai suatu solusi dalam memecahkan masalah.
Menurut Barbara B. Seels dan Rita C. Richey. Dalam Teknologi Pembelajaran: Definisi dan Kawasannya, (terjemahan Dewi S. Prawiradilaga, dkk). Teknolog kinerja akan cenderung memperhatikan peningkatan insentif, desain pekerjaan, pemilihan personil, umpan balik atau alokasi sumber sebagai intervensi. Hal ini mencakup empat proses yaitu analisa, desain, pengembangan, dan produksi. Menurut teknologi kinerja yang pada akhirnya menolong kita melihat posisi teknologi pendidikan dalam HPT secara menyeluruh adalah bahwa pendidikan merupakan satu dari berbagai intervensi yang mungkin diterapkan dalam meningkatkan kinerja di tempat kerja.
AECT (Association for Educational and Communications and Technology),2004. Teknologi Pendidikan adalah :
Educational technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources.(Teknologi Pendidikan adalah studi dan etika praktek untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya teknologi.)
Definisi ini mengandung beberapa elemen kunci,yaitu :
· Studi. Pemahaman teoritis, sebagaimana dalam praktek teknologi pendidikan memerlukan konstruksi dan perbaikan pengetahuan yang berkelanjutan melalui penelitian dan refleksi praktek, yang tercakup dalam istilah studi.
· Etika Praktek. Mengacu kepada standard etika praktis sebagaimana didefinisikan oleh Komite Etika AECT mengenai apa yang harus dilakukan oleh praktisi Teknologi Pendidikan.
· Fasilitasi. Pergeseran paradigma kearah kepemilikan dan tanggung jawab pembelajar yang lebih besar telah merubah peran teknologi dari pengontrol menjadi pem-fasilitasi.
· Pembelajaran. Pengertian pembelajaran saat ini sudah berubah dari beberapa puluh tahun yang lalu. Pembelajaran selain berkenaan dengan ingatan juga berkenaan dengan pemahaman.
· Peningkatan. Peningkatan berkenaan dengan perbaikan produk, yang menyebabkan pembelajaran lebih efektif, perubahan dalam kapabilitas, yang membawa dampak pada aplikasi dunia nyata.
· Kinerja. Kinerja berkenaan dengan kesanggupan pembelajar untuk menggunakan dan mengaplikasikan kemampuan yang baru didapatkannya.
B. TEKNOLOGI KINERJA
Dalam teknologi kinerja, kami menggunakan definisi TP menurut Association for Educational Communications and Technology atau disingkat AECT 2004, sebagai landasan, karena didalam definisi tersebut menerangkan bahwa “the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources.” Ini adalah definisi terbaru yang menyatakan bahwa teknologi pendidikan adalah studi dan praktek etis dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan/memanfaatkan, dan mengelola proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat. Jelas, tujuan utamanya yaitu untuk:
a) Memecahkan masalah belajar atau memfasilitasi pembelajaran agar efektif, efisien dan menarik
b) Meningkatkan kinerja.
C. TEKNOLOGI PENDIDIKAN UNTUK MENINGKATKAN KINERJA
Dalam teknologi pendidikan improving performance atau diterjemahkan sebagai meningkatkan kinerja lebih sering merujuk pada suatu pernyataan mengenai keefektifan; bisa merupakan cara-cara yang diharapkan membawa hasil yang berkualitas, produk yang diharapkan dapat menciptakan proses belajar yang efektif, dan perubahan-perubahan kompetensi yang dapat diterapkan di dunia nyata. Makna belajar itu pun menhBelajar merupakan suatu rangkaian proses interpretasi berdasarkan pengalaman yang telah ada, interpretasi tersebut kemudian dicocokan pengalaman-pengalaman baru.
Efektif sering kali berdampak pada efisiensi, yaitu hasil yang dicapai dengan penggunaan waktu, tenaga, dan biaya seminim mungkin. Namun apa yang dimaksud dengan efisien sangatlah tergantung pada tujuan yang hendak dicapai. Efisiensi dalam gerakan pengembangan instruksional sistematis didefinisikan sebagai menolong peserta didik mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya yang diukur dengan evaluasi terstruktur (tes, ulangan, dsb). Oleh sebab itu proses kegiatan belajar dilakukan dengan tahapan-tahapan yang sistematis. Pandangan ini berbeda dengan pendekatan cara belajar konstruktivis. Cara pandang konstruktivis menekankan pada posisi peserta didiklah yang menentukan tujuan mereka sendiri dan bagian apa yang hendak dipelajari. Belajar yang benar dan berhasil adalah apabila ilmu pengetahuan dapat dipahami secara mendalam, dialami, dan diterapkan untuk mengatasi masalah-masalah di dunia nyata, bukan berdasar hasil ujian atau ulangan. Konstruktivisme cenderung mempersoalkan perancangan lingkungan belajar daripada pentahapan kegiatan pembelajaran. Lingkungan belajar ini merupakan konsteks yang kaya, baik dari landasan pengetahuan, masalah yang otentik, dan perangkat yang digunakan untuk memecahkan masalah. Itulah sebabnya efisiensi tergantung pada apa tujuan yang hendak dicapai dalam proses belajar.
Sementara kata performance atau kinerja merujuk pada dua hal yang saling berkesinambungan:
a) Kemampuan peserta didik untuk menggunakan dan mengaplikasikan kompetensi baru yang telah dicapainya; bukan sekedar mendapat pengetahuan kemudian stagnan, namun pengetahuan itu meningkatkan kompetensi dan kompetensi tersebut dapat diaplikasikan secara nyata.
b) Selain menolong peserta didik memiliki kompetensi yang lebih baik, alat dan ide-ide teknologi pendidikan dapat membantu para guru maupun perancang pembelajaran menjadi tenaga pendidik yang lebih mumpuni. Hasilnya mereka dapat menolong berbagai institusi mencapai tujuan dengan lebih baik.
Itulah mengapa teknologi pendidikan menyatakan dirinya sebagai salah satu bidang yang punya kemampuan untuk meningkatkan produktifitas pada level individu yaitu peserta didik dan tenaga pendidik hingga level organisasi.
Dalam tulisan Molenda dan Pershing makna peningkatan performa atau kinerja dibatasi pada keterlibatan teknologi dalam bidang pendidikan semata. Artinya bahwa teknologi dapat meningkatkan peran pendidikan untuk memperbaiki kinerja dan kualitas manusia.
A. Peningkatan Kinerja Peserta Didik Sebagai Pribadi
Pembelajaran dewasa ini menghadapi dua tantangan. Tantangan pertama, adanya perubahan persepsi tentang belajar itu sendiri dan tantangan kedua adanya teknologi informasi dan telekomunikasi yang memperlihatkan perkembangan yang sangat luar biasa. Dalam kerangka pembelajaran individual, teknologi pendidikan sebagai sebuah studi berupaya untuk meningkatan kinerja atau performa peserta didik melalui beberapa cara yaitu:
1. Memberi pengalaman belajar bernilai lebih dengan difokuskan pada tujuan yang hendak dicapai, bukan sekedar keberhasilan melewati serangkaian test terstruktur.
2. Alih-alih menghafal pelajaran, melalui pemanfaatan teknologi pengalaman-pengalaman belajar yang didapat diharapkan dapat membawa pada tingkat pemahaman yang lebih dalam. Jika proses belajar ini dibuat lebih bernilai dengan mendesainnya sedemikian rupa, maka pengetahuan dan kompetensi yang baru dapat tertransfer lebih baik lagi.
Individual learning atau pembelajaran individual dapat diartikan “the ability of individuals to experience personal growth in their interactions with the world around them.” (www.ask.com). Melalui pembelajaran individual peserta didik langsung mengalami apa yang dipelajarinya, membangun sebuah pemahaman dengan model self-discovery sehingga penghayatan akan makna pelajaran menjadi lebih dalam tertanaman. Ada sebuah pepatah Cina kuno yang mengatakan
“Apa yang saya dengar, saya lupa; apa yang saya lihat, saya ingat;
Apa yang saya lakukan, saya paham.”
Pembelajaran bernilai lebih yang dimaksud oleh teknologi pendidikan adalah bahwa melalui aplikasi teknologi dalam bidang pendidikan:
1. Tujuan pembelajaran yang berfokus pada tes atau ujian yang sifatnya sangat dangkal dapat diubah. Artinya bahwa pembelajaran bagi siswa bukanlah sekedar menggali kemampuan kognitif, apalagi pada tingkat kognitif yang rendah yaitu pengetahuan dan pemahaman. Tujuan pembelajaran yang sekedar “berhasil dalam ujian” sudah pasti tidak memberikan peningkatan performa pada peserta didik.
2. Pengabaian pendidikan akan adanya multiple intelegensi pada peserta didik dapat dihindari. Menurut Howard Gardner, hakikatnya terdapat 7 tipe intelegensia anak (manusia secara umum), namun di sekolah hanya 2 tipe yang dimasukkan dalam intrakurikuler yaitu kemampuan berbahasa dan logika matematika. Sementara 5 intelegensia yaitu musik, kemampuan spasial, kinestetik, interpersonal, dan intrapersonal hanya merupakan tambahan. Konsekuensinya, output pembelajaran dalam pendidikan formal cenderung diasosiasikan dengan ilmu pengetahuan yang sempit, terbatas, dan pada tingkat yang redah.
3. Pembelajaran dapat merambah pada semua tingkat atau ranah kemampuan peserta didik yang semestinya baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik (taksonomi Bloom). Oleh karenanya salah satu cara yang diusahakan oleh teknologi pendidikan untuk meningkatkan kinerja peserta didik adalah melalui praktek-praktek design pembelajaran (pendekatan ID sistematis - Morrison)a ang mengarahkan perencana pembelajaran berpikir tentang berbagai outcome pembelajaran dan mengklarifikasi pada level apa tipe pembelajaran yang diharapkan. Jika saja keadaan ini tercipta maka peserta didik lebih dapat menikmati pengalaman aktifitas-aktifitas belajar dan metode penilaian yang sesuai dengan kebutuhan belajar, bukan sekedar ujian yang terstandarisasikan.
4. Kedalaman pembelajaran lebih mungkin dicapai. Hal ini untuk mengatasi apa yang sering terjadi dalam proses belajar yaitu belajar untuk menghafal. Weigel mengemukakan istilah pembelajaran di permukaan (surface learning) dan pembelajaran mendalam (deep learning) untuk memberikan perbedaan tujuan yang menyolok. Surface learning diwakilkan oleh kebiasaan penghafalan fakta, memperlakukan materi sebagai bagian-bagian informasi yang tidak berkaitan, dan melakukan prosedur rutin tanpa berpikir. Sebaliknya tujuan deep learning adalah mendorong peserta didik mengaitkan ide-ide dengan pengetahuan yang sudah didapat, mencari pola-pola utama, mempelajari pernyataan-pernyataan yang ada secara kritis, dan merefleksikannya dengan pemahaman mereka sendiri. Deep learning dapat terjadi dalam komunitas pembelajar yang berorientasi pada penyelidikan (inquiry-oriented). Komunitas ini bisa tercipta melalui aplikasi teknologi informasi dengan memanfaatkan web berbasis jaringan kerja seperti blog.
5. Terjadi transfer pembelajaran dalam dunia pendidikan formal. Diakui bahwa teknologi dapat membantu siswa memiliki kemampuan yang tinggi, sekaligus menerapkan pengetahuan baru di luar ruang kelas. Artinya bahwa dengan teknologi transfer ilmu pengetahuan tidak terbatas semata dalam ruang kelas melalui design pembelajaran (disebut sebagai soft technology) yang disusun pengajar, namun juga melalui hard technology yaitu penciptaan dan pemanfaatan lingkungan dimana pembelajar dapat mempraktekan pengetahuan dan kemampuannya dalam dunia nyata.
Teknologi pendidikan tidak hanya bergerak di persekolahan tapi juga dalam semua aktifitas manusia (seperti perusahaan, keluarga, organisasi masyarakat, dll) sejauh berkaitan dengan upaya memecahkan masalah belajar dan peningkatan kinerja. Oleh karena kinerja peserta didik baik di sekolah maupun di tempat kerja dapat ditingkatkan melalui penggunaan teknologi teknologi lunak seperti desain pembelajaran (ID) dan hard-tech, juga penciptaan dan pemanfaatan lingkungan di mana peserta didik dapat mempraktekkan dan mengaplikasi ilmu pengetahuan yang didapat dalam dunia nyata.
B. Peningkatan Kinerja Guru dan Para Perancang Pembelajaran
Aplikasi teknologi dalam bidang pendidikan dapat menolong para tenaga pengajar menciptakan proses belajar yang lebih menarik dan bernilai manusiawi. Teknologi pendidikan bagi pengajar memiliki manfaat luar biasa terutama dalam meminimalisir waktu pembelajaran dan meningkatkan efektifitas yang pada akhirnya dapat menambah produktifitas tenaga pengajar.
Beberapa langkah yang bisa digunakan untuk memperbaiki kinerja guru dan perancang desain pembelajaran adalah seperti penjelasan singkat berikut ini.
1. Mengurangi waktu pembelajaran.
TP memberikan wawasan untuk membantu para guru dan para desainer(trainer) mengurang waktu yang tidak efisien dalam pembelajaran melalui prosedur prosedur khusus dalam analisa kebutuhan dan analisa pembelajaran Melalui prosedur ini mengetahui apa yang menjadi tujuan pasti Dari tujuan pasti dari proses pembelajaran (penyampaian materi) dngan tujuan itu lah proyek pembelajarn di mulai. Konsekuensinya guru dan para desainer mengurangi waktu pembelajaan yang tidak efektif untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
2. Menciptakan pembelajaran yang lebih menguntungkan dari segi biaya.
Desain pembelajaran yang sistemasis menolong para perencana pembelajaran mencapai hasil yang luar biasa menguntungkan.
3. Menciptakan pembelajan yang ramah. pembelajaran lebih menarik.
Yang dimaksut dengan menarik disini sangat variasi tergantung kasus per kasus, tetapi secara umum pembelajaran yang menarik memiliki beberapa pengertian:
A. Menantang, memberikan ekspetasi yang tinggi.
B. Memiliki kesesuaian dengan pengalaman peserta didik di masa lalu dan dimasa yang akan datang.
C. Ada unsur humor dan permainan dalam pembelajaran.
D. Mempertahankan perhatian siswa melalui hal-hal yang baru.
E. Terlibat secara intelektual dan emosional.
F. Menggunakan berbagai bentuk penyajian.
Teknologi Pendidikan (TP) mempunyai sejarah panjang yang sangat menarik. Banyak inovasi-inovasi pembelajaran yang diinspirasi dari teroi kognitifisme, konstruktifisme, seperti problem base lerning yang didisaen untuk meningkatkan peserta belajar yang disampaikan oleh pengajar.
4. Menghormati nilai-nilai kemanusiaan.
Banyak inovasi didalam Teknologi Pendidikan (TP) yang berfokuskan dalam nilai-nilai kemanusiaan. Artinya murid adalah orang yang tidak dijejali ilmu saja atau dengan kata lain adalah memanusiakan murid. Hal ini sesuai dengan bentuk inovasi yang dibuat dengan melihat murid dari segi behaviourisme. Secara singkat dapat di samapikan bahwa hasil inovasi Teknologi Pendidikan (TP) menempatkan peserta didik sebagai pemegang control dalam proses pembelajaran.
C. Peningkatan Kinerja Organisasi
Pada awalnya teknologi diadopsi oleh organisasi adalah untuk meningkatkan produktifitas organisasi, terutama untuk memangkas biaya dan meningkatkan hasil. Itulah yang menjadi tujuan pemanfaatan teknologi di dunia bisnis dan industri. Namun tujuan ekonomis seperti ini boleh dikata kurang populer di organisasi atau lembaga pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi. Oleh sebab itu perlu dikaji lebih dalam lagi beberapa kemungkinan peran teknologi dalam meningkatkan produktifitas di organisasi pendidikan.
1. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas
Efisiensi adalah doing things right (dengan benar) dan efektifitas adalah doing the right things (yang benar). Dalam dunia pendidikan kata efisiensi bisa dipandang sebagai rancangan, pengembangan, dan melakukan pembelajaran dnegan cara memanfaatkan sumber-sumber sekecil mungkin untuk mencapai hasil yang, paling tidak, sama atau lebih baik. Sementara kata efektifitas berarti melakukan perbuatan yang memang benar-benar bisa menolong peserta didik mencapai tujuan pembelajaran yaitu menguasai pengetahuan, punya keahlian, dan terjadi perubahan sikap. Kita membutuhkan keduanya. Pembelajaran yang efisien menjadi kehilangan makna jika tidak bisa mencapai tujuan pembelajaran. Sementara itu pembelajaran yang menghasilkan hasil belajar yang diinginkan tetapi boros penggunaan biaya, tidak tepat waktu, atau tidak punya dampak menghasilkan lulusan yang tepat guna sama dengan pembelajaran yang tidak produktif.
2. Sebuah perspektif sistem bagi kinerja organisasi
Dalam pendidikan kalimat “hasil yang diinginkan” bisa bermakna berbeda sesuai dengan persepsi masing-masing orang. Oleh sebab itu perlu sebuah pengukuran what goals are worth pursuing and what indicators should be used to measure progress toward those goals” (hal.65). Banyak perdebatan yang dilakukan oleh ilmuwan pendidikan apakah memang ukuran keberhasilan yang dipakai oleh organisasi-organisasi bisnis dan industri (ekonomi) bisa dengan begitu saja diterapkan dalam organisasi pendidikan. Terlepas dari hal tersebut, pendekatan atau cara pandang sistem, secara total dan menyeluruh dapat membantu organisisi atau institusi pendidikan mendefinisikan dan mencapai tujuan yang berharga (output) dengan proses pembelajaran yang seefisien dan seefektif mungkin.
Esensi dari pendekatan sistem adalah melangkah ke belakang dan mencatat faktor apa saja yang terjadi di sekitar dan mempengaruhi kejadian-kejadian dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Dengan melihat kondisi pembelajaran di kelas maka dapat diperoleh pemahaman lingkungan apa yang seharusnya diciptakan untuk mendukung strategi pembelajaran yang lebih berdampak.
Organisasi dapat meningkatkan produktifitas komponen yang ada di dalamnya, terutama faktor SDM nya dengan menolong mereka memperoleh pengetahuan yang baru, keahlian baru, dan menciptakan sikap baru yang lebih positif. Namun ada usaha lain yang lebih mendalam yaitu dengan mengubah kondisi-kondisi di dalam organisasi sehingga orang lebih dapat memiliki performa kerja lebih baik lagi untuk mencapai tujuan organisasi, dengan atau tanpa pembelajaran tambahan. Usaha perbaikan kinerja yang sifatnya noninstructional intervention seperti mencipatkan kondisi kerja yang lebih baik, alat kerja yang lebih memadai, dan memotivasi pekerja menjadi lebih giat dilabelkan sebagai HPT atau human performance improvement atau Teknologi Kinerja Manusia. Keseluruhan intervensi yang bersifat instruksional dan noninstruksional dalam organisasi merupakan usaha untuk mengembangkan atau meningkatkan kinerja organisasi.
3. HPT
HPT atau Teknologi Kinerja Manusia menurut Pershing adalah “the study and ethical practice of improving productivity in organizations by designing and developing effective interventions that are result-oriented, comprehensive, and systemic.” HPT merupakan seperangkat metode, prosedur, dan strategi untuk memecahkan masalah dalam kerangka organisasi. Sesuai dengan namanya maka HPT bersentuhan langsung dengan potensi manusia sebagai sumber daya kerja dalam organisasi. Penanganan performa SDM dengan baik akan dapat meningkatkan kualitas kinerja organisasi. Bagaimana departemen Human Resource atau Personalia mengelola karyawan untuk meningkatkan efektifitas kerja mereka adalah bidang yang ditangani oleh HPT. Intinya HPT mengkaji tentang upaya-upaya untuk meningkatkan kinerja orang dalam suatu organisasi melalui pendekatan yang sistematis, sistematis dan ilmiah. Para teknolog kinerja tidak selalu merancang intervensi pembelajaran sebagai suatu solusi dalam memecahkan masalah.
Menurut Barbara B. Seels dan Rita C. Richey. Dalam Teknologi Pembelajaran: Definisi dan Kawasannya, (terjemahan Dewi S. Prawiradilaga, dkk). Teknolog kinerja akan cenderung memperhatikan peningkatan insentif, desain pekerjaan, pemilihan personil, umpan balik atau alokasi sumber sebagai intervensi. Hal ini mencakup empat proses yaitu analisa, desain, pengembangan, dan produksi. Menurut teknologi kinerja yang pada akhirnya menolong kita melihat posisi teknologi pendidikan dalam HPT secara menyeluruh adalah bahwa pendidikan merupakan satu dari berbagai intervensi yang mungkin diterapkan dalam meningkatkan kinerja di tempat kerja.
BELAJAR BERBASIS ANEKA SUMBER
Seiring dengan kemajuan Ilmu pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), manusia dapat dengan mudah memperoleh ilmu pengetahuan dari berbagai sumber yang beraneka ragam serta dari segala penjuru dunia. Pengembangan kompetensi kognitif tingkat tinggi dab interpersonal skills yang diperlukan menghadapi tuntutan masa depan, bukan saja berkenaan dengan apa yang menjadi perolehan lulusan, tetapi terutama berkenaan dengan bagaimana perolohan itu didapat.
Belajar Berbasis Aneka Sumber (BEBAS) telah menjadi paradigm belajar saat ini. Untuk mengambangkan sumber daya manusia tidak ada cara yang paling tepat selain belajar, dan belajar. Menurut teori behaviourisme belajar adalah perubahan tingkah laku. Belajar adalah pembuka dari tidak tahu menjadi tahu, dari tiddak paham menjadi paham, dengan katalain terjadi perubahan dalam mental seseorang.
A. PENGERTIAN BELAJAR BERBASIS ANEKA SUMBER
Belajar berbasis aneka sumber sangat terkait dengan beberapa pengertian dan system pembelajaran. Diantaranya open learning, distance learning, flexible learning, learning resources, resources based, seperti yang dikemukakan oleh Dorell (1993, p.xxi-xxii).
1. “open learning” (pendidikan terbuka) adalah prinsip belajar terbuka bagi semua orang. Dengan kata lain tidak ada prakualifikasi seperti batas usia, status social-ekonomi, atau harus lulus pada level tertentu.
2. “distance learning”
· Menurut AT dan T, pendidikan jarak jauh adalah system atau proses yang langsung menghubungkan learners dengan sumber sumber yang jauh.
· Menurut the California distance learning project (CDLP) pendidikan jarak jauh adalah system penyampaian pembeljaran yang menghubungkan learner dengan sumber pendidikan.
· Menurut the united states learning association (USDLA), pendidikan jarak jauh adalah pengaantaran pendidikan atau pelatihan melalui pembelajaran dengan media elektronik. Pendidikan jarak jauh mengacu pada situasi belajar mengajar yang mana instruktur dan learners berada dalam jarak terpisah secara geografis.
3. “flexible learning” (belajar fleksibel) adalah jenis belajar yang dapat menggunakan berbagai sumber belajar dalam semua bentuk.
4. “learning resources” (sumber belajar) adalah material pembelajaran.
5. “resources based” adalah belajar berbasis aneka sumber (BEBAS) secara luas meliputii jenis system pendidikan, seperti pendidikan terbuka, pendidikan jarak jauh, belajar fleksibel yang menggunakan aneka sumber.
Sehubungan dengan itu Wildmart dan Burton dalam Schwier (1994) menegaskan bahwa:
“the process of planning the instructional enterprise can begin only after planner meets the dual requirements of understanding both the systematic nature of the design process as well as particular theoretical orientations that explain how learners do learn, might learn, can be motivated to learn, etc”
"Proses perencanaan perusahaan pembelajaran dapat dimulai hanya setelah perencana memenuhi persyaratan ganda dari pemahaman kedua sifat sistematis dari proses desain serta orientasi teoritis tertentu yang menjelaskan bagaimana peserta didik melakukan belajar, bisa belajar, dapat termotivasi untuk belajar, dll "
Sesuai uraian di atas, pada prinsipnya ada tiga hal pokok proses perencanaan kegiatan pembelajaran, yaitu:
1) Bagaiman pebelajar melakukan kegiatan belajar.
2) Kemungkinan atau kesempatan belajar.
3) Kemauan atau motivasi belajar.
Pertama, belajar berbasis aneka sumber memungkinkan setiap pebelajar melakukan kegiatan belajar sesuai dengan gaya belajar yang dimilikinya. Kedua, kesempatan belajar, karena hal ini sifatnya individual maka seorang pebelajar dapat mengatur kapan waktu yang cocok buat mereka. Ketiga, kemauan atau motivasi untuk belajar, para ahli membedakan motivasi ada dua hal, yaitu dorongan dari dalam (intrinsic), dan dorongan dari luar (ekstrinsik).
B. MANFAAT BELAJAR BERBASIS ANEKA SUMBER BAGI PEBELAJAR.
Beberapa manfaat yang dapat diambil dar belajar berbasis aneka sumber adalah sebagai berikut:
Ø Yang terpenting adalah menemukan bakat yang terpendam yang selama ini tidak Nampak.
Ø menggunakan sumber sumber yang memungkinkan pembelajaran berlangsung sepanjang tahun, dan dapat menyeimbangkan antara keterampilan dan pengetahuan.
Ø Seseorang dapat belajar sesuai kondisinya, pada waktu belajar dan waktu kerja tanpa cemas dalam persaingan.
Selanjutnya, Seels dan Richey (1994) membagi kawasan teknologi pendidikan, yang terdiri atas, teknologi cetak, teknologi audiovisual, teknologi berbasisi computer, dan teknologi terpadu.
1. Teknologi cetak adalah cara untuk memproduksi atau menyampaikan bahan. Seperti buku-buku dan bahan bahan visual yang statis. Terutama melalui proses pencetakan mekanis.
2. Teknologi audiovisual merupakan cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan peralatan mekanis dan elektronis untuk menyajikan pesan audiovisual.
3. Teknologi berbasis computer merupakan cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan perangkat yang bersumber pada micro processor. Pada dasarnya, teknologi berbasis computer dapat dibedakan menjadi beberapa jenis aplikasi computer biasanya disebut computer based instruction (CBI), computer assisted instruction (CAI), atau computer managed instruction (CMI). Aplikasi-aplikasi ini hampir seluruhnya dikembangkan berdasarkan teori perilaku dan pembelajaran terprogram. Akan tetapi, sekarang lebih banyak berlandaskan pada teori kognitif. (Jonassen, 1996)
4. Teknologi terpadu, merupakan cara untuk memproduksi dan menyampaikan bahan dengan memadukan beberapa jenis media yang dikendalikan computer.
Menurut Schwier dan Missanchuk (1993), karakteristik pembelajaran multimedia interaktif adalah :
· Bersifat pembelajaran,
· Melibatkan berbagai sumber,
· Segmented, artinya dibagi dalam berbagai bagian,
· Coherent, yaitu bertalian secara logis.
3. IMPLEMENTASI BELAJAR BERBASIS ANEKA SUMBER
Bagaimana teknologi dapat berperan dalam pendidikan sehingga memberikan peluang bagi pebelajar untuk memanfaatkannya sebagai sumber belajar perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Proses pendidikan berpusat pada siswa/mahasiswa
2. Peranan institusi pendidikan “elektronik”
3. Prinsipp pedagogi dan disain penilaian antar budaya.
1. Proses pendidikan berpusat pada siswa/mahasiswa
Disain pendidikan tradisional pendekattannya dalam mendidik oleh Rmasden (1992) disebut sebagai transmit content or demonstrate procedure. Di sisi lain Laurillard (1992) menggambarkan teacher as story teller. Namun yang lebih penting adalah memberikan perhatian lebih pada pendekatan siswa/mahasiswa.
Pengajaran melibatkan siswa/mahasiswa untuk aktif dalam setiap mata pelajaran (Ramsden,1992). Keseluruhan proses ini akan mengembangkan kemampuan mahasiswa yang tidak hanya terfokus pada materi. (Bowden,2000).
2. Peranan Institusi Pendidikan “elektronik”
Institusi pendidikan “Elektronik” dalam menawarkan program-programnya memilki peran sebagai berikut:
a. Memberi informasi tentang kebutuhan dan peluang pendidikan dan pelatihan.
b. Memberikan pengawasan kualitas.
c. Memberi akreditasi melalui penilaian belajar yang independent.
d. Mengembangkan kurikulum yang koheren dan tepat.
e. Menjadi brooker dan mengesahkan kursus-kursus, bahan pendidikan dan pelatihan dari pemasok.
f. Memberi pelayanan penggunaan dan komunikasi bahan bahan pelajaran.
g. Menyediakan program multimedia yang user friendly baik impor maupun eksport.
h. Membuat jaringan antar pebelajar dan antar instruktur.
i. Memnciptakan bahan bahan multimedia pendidikan berkualitas tinggi dalam bentuk yang mudah diperoleh.
j. Mengadakan penelitian untuk kebutuhan pendidikan dan pelatihan.
k. Menggunakan teknologi-teknologi baru untuk pengembangan pendidikan dan pelatihan serta mengevaluasi penggunaanya.
Inti pokok pelayanan pendidikan “Elektronik” adalah infrastruktur jaringan multimedia internal yang membolehkan institusi lain untuk mengakses, menciptakan dan member pelayanan multimedia pendidikan dalam aneka macam format dan aneka macam cara. Konfigurasi teknis sebuah institusi pendidikan “Elektronik” memiliki fungsi produksi, brooker, dan manajemen berbagai input yang berupa audio, program, maupun video. Sedangkan outputnya dapat berupa program, barang cetakan, komunikasi dengan radio selular, satelit, atau server multimedia.
3. Prinsip pedagogi dan disain penilaian antar budaya
Tujuan pembelajaran online adalah menjamin bahwa pedagogi dan kurikulum fleksibel, dapat menyesuaikan diri dan relevan bagi siswa dari berbagai latar belakang,, sehingga aspek pedagogi bersifat mendukung kebutuhan antar budaya. Persoalannya adalah sampai seberapa jauh pembelajaran online dapat memahami pengertian lintas budaya.
Banyak peneltian yang dilakukan mengenai pola sumber pendidikan trans-nasional. Kendala pembelajaran online yang efektif dalam komunikasi global adalah:
§ Permasalahan budaya dan lingkungan.
§ Perbedaan perbedaan gaya mengajar.
§ Permasalahan yang berhubungan dengan nilai pendidikan dan budaya yang berbeda.
§ Permasalahan bahasa dan semantic.
§ Maslah teknik yang berhubngan dengan platform, sisitem pengoperasian dan tidak adanya interface standar.
Hal penting lain yang perlu dipertimbangkan dalam proses pendidikan online adalah kurikulum. Kurikulum inklusif bertujuan untuk meningkatkan hal timbal balik (reciprocity), pengembangan arus dua arah, dan nilai-nilai antara. Kurikulum inklusif memiliki cirri-ciri:
1. Menilai budaya latar belakangdan pengalaman mahasiswa.
2. Inklusif gender budaya atas perbedaan yang berhubungan dengan etnic, bahasa dan latar belakang sosio-ekonomi.
3. Mengakui bahwa setiap keputusan kurikulum adalah pemilihan daripada kebenaran lengkap.
4. Menjadikan eksplisit pola mata pelajaran pendukung yang rasional.
5. Responsive terhadap dasar pengetahuan siswa.
Simak
Baca secara fonetik
Kamus - Lihat kamus yang lebih detail
BELAJAR BERBASIS ANEKA SUMBER
Belajar Berbasis Aneka Sumber (BEBAS) merupakan proses belajar alternatif bag mereka yang tidak mampu masuk kedalam lembaga pendidikan konvensional. Dengan BEBAS seorang anak didik dapat belajar dengan sumber belajar apa saja, belajar dari siapa saja, belajar kepada siapa saja, belajar tentang apa saja, dan belajar untuk tujuan apa saja.
Keuntungan dari BEBAS disamping perluasan bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang mereka inginkan juga mengurangi beban pemerintah dalam menyeenggarakan pendidikan nasional.
BEBAS di Lembaga Pendidikan Konvensional
konsep penggunaan sumber belajar di sekolah memang telah menggunakan pendekatan bebas ini. Tetapi penggunaan suber belajar masih didominasi oleh perancangan, belum memeanfaatkan yang ada disekelilingnya secara optimal. Keberadaan SMP, SMA, dan Universitas terbuka nampaknya telah mendekati dari konsep BEBAS, yakni menggunakan sumber belajar yang relatif lebih luas yang berada di lingkungan sekitar siswa.
BEBAS Non-Format Pendidikan Konvensional
Dalam pandangan faham belajar sosial, seorang tidak didorong oleh tenaga dari dalam, demikian pun tidak digencet stimulus-stimulus yang berasal dari lingkungan. Alih-alih fungsi psikologi orang itu dijelaskan sebagai fungsi interaksi timbalbalik yang terus menerus terjadi antara faktor-faktor penentu pribadi da lingkungannya.
(Bandura, 1977b, hal.-11).
Maksudnya adalah asas belajar yang berlaku dalam lingkungan yang wajar., lingkungan sekitar sekitar memberikan kesempatan yang luas kepada individu untuk memperoleh keterampilan yang kompleks.
Penggunaan sumber belajar dapat digolongkan kedalam tiga tingkatan kebebasannya, yaitu:
1. bebas mutlak
urusan belajar dan hal yang terkait, merupakan hak asasi manusia sehingga setiap individu atau sekelompok orang bebas menentukan apa saja yang terkait dengan belajar termasuki sumber belajarnya. Dalam hal demikian siapapun kita tidak dapat berbuat banyak atas orang lain dalam hal belajarnya
2. Bebas terkendali longgar
Proses belajar dan penggunaan sumber belajar tekendali dalam arti positif oleh para inisiator, organisator, lembaga swadaya masyarakat (LSM) secara longgar demi efektivitas proses belajar.
3. Bebas terkendali ketat
Dilakukan oleh berbagai institusi pendidikan konvensional yang telah memiliki aturan yang terkadang bersifat kaku dan berskala nasional.
Belajar dalam kehidupan bermasyarakat dapat digolongkan menjadi:
a) belajar dengan...
Menunjukan bahwa proses belajar itu disertai, didampingi, dengan perantara, menggunakan sesuatu yang mendukung proses belajar itu sendiri sehingga tercapailah tujuan belajar.
b) belajar dari...
Menunjukan bahwa didalam proses belajar terdapat sesuatu yang digali sehingga pebelajar menguasai dan mencapai tujuan belajar.
c) belajar kepada...
Hal ini menunjukan adanya obyek yang dijadikan narasumber.
Misalnya: belajar kepada kyai, guru, dosen, seorang ahli, dll.
d) belajar tentang...
Hal ini menunjukan adanya Spesifikasi materi yang akan dikuasai sehingga proses belajar menjadi terfokus kepada satu atau beberapa ha yang sejenis.
Misalnya: belajar tentang matematika, pemograman berbasis komputer, sepak bola, desain interior, dll.
e) belajar untuk...
Hal ini menunjukan tentang adanya tujuan akhir belajar.
Misalnya: belajar utuk menjadi seorang sopir yang baik maka seseorang harus pula belajar tentang mobil, jalan raya, aturan lalu lintas, dan juga ia harus belajar dari sopir lainnya.
Menurut Association Educational Communication and technology (AECT) :
Learning resources (for educational technology) all of the resources (data, people, and things) which may be used by the learner in isolation or in combination usually in a formal manner, to facilitate learning; they include messages, people, materials, devices, techniques, and setting. (AFCT,1977,p.F)
Yang dimaksud dengan sumber (pen: sumber belajar) ialah asal (pen: sesuatu) yang mendukung terjadinya belajar, termasuk system peayanan, bahan pembelajaran, dan lingkungan.
Peluang
Peluang melaksanakan BEBAS dan memperoleh manfaat dari BEBAS ini secara garis besar dapat dikelompokan kedalam:
1. individu
2. keluarga
3. masyarakat
4. pemerintah
5. tempat kerja
6. tempat ibadah
7. media
8. sekolah
9. perguruan tinggi
Peran Pemerintah Untuk Melancarkan Program BEBAS
Pemerintah dapat berperan dengan mengeluarkan aturan khusus mengenai mekanisme pelaksanaan BEBAS termasuk didalamnya kurikulum khusus untuk BEBAS, acuan patokan penguasaan kemampuan, standar minimal, serta sertifikasi atau pemberian semacam surat tanda tamat belajar sehingga menarik banyak kalangan untuk ikut serta didalamnya.
Pengendalian Mutu BEBAS
Pengendalian ini dimaksudkan agar terdapat standar minimal yang disesuaikan dengan kondisi si pelajar. Dalam pendidikan formal dikenal dengan standar acuan patokan, yakni level kemampuan tertentu yang menjadi rujukan penguasaan kemampuan peserta belajar.
Belajar Berbasis Aneka Sumber (BEBAS) telah menjadi paradigm belajar saat ini. Untuk mengambangkan sumber daya manusia tidak ada cara yang paling tepat selain belajar, dan belajar. Menurut teori behaviourisme belajar adalah perubahan tingkah laku. Belajar adalah pembuka dari tidak tahu menjadi tahu, dari tiddak paham menjadi paham, dengan katalain terjadi perubahan dalam mental seseorang.
A. PENGERTIAN BELAJAR BERBASIS ANEKA SUMBER
Belajar berbasis aneka sumber sangat terkait dengan beberapa pengertian dan system pembelajaran. Diantaranya open learning, distance learning, flexible learning, learning resources, resources based, seperti yang dikemukakan oleh Dorell (1993, p.xxi-xxii).
1. “open learning” (pendidikan terbuka) adalah prinsip belajar terbuka bagi semua orang. Dengan kata lain tidak ada prakualifikasi seperti batas usia, status social-ekonomi, atau harus lulus pada level tertentu.
2. “distance learning”
· Menurut AT dan T, pendidikan jarak jauh adalah system atau proses yang langsung menghubungkan learners dengan sumber sumber yang jauh.
· Menurut the California distance learning project (CDLP) pendidikan jarak jauh adalah system penyampaian pembeljaran yang menghubungkan learner dengan sumber pendidikan.
· Menurut the united states learning association (USDLA), pendidikan jarak jauh adalah pengaantaran pendidikan atau pelatihan melalui pembelajaran dengan media elektronik. Pendidikan jarak jauh mengacu pada situasi belajar mengajar yang mana instruktur dan learners berada dalam jarak terpisah secara geografis.
3. “flexible learning” (belajar fleksibel) adalah jenis belajar yang dapat menggunakan berbagai sumber belajar dalam semua bentuk.
4. “learning resources” (sumber belajar) adalah material pembelajaran.
5. “resources based” adalah belajar berbasis aneka sumber (BEBAS) secara luas meliputii jenis system pendidikan, seperti pendidikan terbuka, pendidikan jarak jauh, belajar fleksibel yang menggunakan aneka sumber.
Sehubungan dengan itu Wildmart dan Burton dalam Schwier (1994) menegaskan bahwa:
“the process of planning the instructional enterprise can begin only after planner meets the dual requirements of understanding both the systematic nature of the design process as well as particular theoretical orientations that explain how learners do learn, might learn, can be motivated to learn, etc”
"Proses perencanaan perusahaan pembelajaran dapat dimulai hanya setelah perencana memenuhi persyaratan ganda dari pemahaman kedua sifat sistematis dari proses desain serta orientasi teoritis tertentu yang menjelaskan bagaimana peserta didik melakukan belajar, bisa belajar, dapat termotivasi untuk belajar, dll "
Sesuai uraian di atas, pada prinsipnya ada tiga hal pokok proses perencanaan kegiatan pembelajaran, yaitu:
1) Bagaiman pebelajar melakukan kegiatan belajar.
2) Kemungkinan atau kesempatan belajar.
3) Kemauan atau motivasi belajar.
Pertama, belajar berbasis aneka sumber memungkinkan setiap pebelajar melakukan kegiatan belajar sesuai dengan gaya belajar yang dimilikinya. Kedua, kesempatan belajar, karena hal ini sifatnya individual maka seorang pebelajar dapat mengatur kapan waktu yang cocok buat mereka. Ketiga, kemauan atau motivasi untuk belajar, para ahli membedakan motivasi ada dua hal, yaitu dorongan dari dalam (intrinsic), dan dorongan dari luar (ekstrinsik).
B. MANFAAT BELAJAR BERBASIS ANEKA SUMBER BAGI PEBELAJAR.
Beberapa manfaat yang dapat diambil dar belajar berbasis aneka sumber adalah sebagai berikut:
Ø Yang terpenting adalah menemukan bakat yang terpendam yang selama ini tidak Nampak.
Ø menggunakan sumber sumber yang memungkinkan pembelajaran berlangsung sepanjang tahun, dan dapat menyeimbangkan antara keterampilan dan pengetahuan.
Ø Seseorang dapat belajar sesuai kondisinya, pada waktu belajar dan waktu kerja tanpa cemas dalam persaingan.
Selanjutnya, Seels dan Richey (1994) membagi kawasan teknologi pendidikan, yang terdiri atas, teknologi cetak, teknologi audiovisual, teknologi berbasisi computer, dan teknologi terpadu.
1. Teknologi cetak adalah cara untuk memproduksi atau menyampaikan bahan. Seperti buku-buku dan bahan bahan visual yang statis. Terutama melalui proses pencetakan mekanis.
2. Teknologi audiovisual merupakan cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan peralatan mekanis dan elektronis untuk menyajikan pesan audiovisual.
3. Teknologi berbasis computer merupakan cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan perangkat yang bersumber pada micro processor. Pada dasarnya, teknologi berbasis computer dapat dibedakan menjadi beberapa jenis aplikasi computer biasanya disebut computer based instruction (CBI), computer assisted instruction (CAI), atau computer managed instruction (CMI). Aplikasi-aplikasi ini hampir seluruhnya dikembangkan berdasarkan teori perilaku dan pembelajaran terprogram. Akan tetapi, sekarang lebih banyak berlandaskan pada teori kognitif. (Jonassen, 1996)
4. Teknologi terpadu, merupakan cara untuk memproduksi dan menyampaikan bahan dengan memadukan beberapa jenis media yang dikendalikan computer.
Menurut Schwier dan Missanchuk (1993), karakteristik pembelajaran multimedia interaktif adalah :
· Bersifat pembelajaran,
· Melibatkan berbagai sumber,
· Segmented, artinya dibagi dalam berbagai bagian,
· Coherent, yaitu bertalian secara logis.
3. IMPLEMENTASI BELAJAR BERBASIS ANEKA SUMBER
Bagaimana teknologi dapat berperan dalam pendidikan sehingga memberikan peluang bagi pebelajar untuk memanfaatkannya sebagai sumber belajar perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Proses pendidikan berpusat pada siswa/mahasiswa
2. Peranan institusi pendidikan “elektronik”
3. Prinsipp pedagogi dan disain penilaian antar budaya.
1. Proses pendidikan berpusat pada siswa/mahasiswa
Disain pendidikan tradisional pendekattannya dalam mendidik oleh Rmasden (1992) disebut sebagai transmit content or demonstrate procedure. Di sisi lain Laurillard (1992) menggambarkan teacher as story teller. Namun yang lebih penting adalah memberikan perhatian lebih pada pendekatan siswa/mahasiswa.
Pengajaran melibatkan siswa/mahasiswa untuk aktif dalam setiap mata pelajaran (Ramsden,1992). Keseluruhan proses ini akan mengembangkan kemampuan mahasiswa yang tidak hanya terfokus pada materi. (Bowden,2000).
2. Peranan Institusi Pendidikan “elektronik”
Institusi pendidikan “Elektronik” dalam menawarkan program-programnya memilki peran sebagai berikut:
a. Memberi informasi tentang kebutuhan dan peluang pendidikan dan pelatihan.
b. Memberikan pengawasan kualitas.
c. Memberi akreditasi melalui penilaian belajar yang independent.
d. Mengembangkan kurikulum yang koheren dan tepat.
e. Menjadi brooker dan mengesahkan kursus-kursus, bahan pendidikan dan pelatihan dari pemasok.
f. Memberi pelayanan penggunaan dan komunikasi bahan bahan pelajaran.
g. Menyediakan program multimedia yang user friendly baik impor maupun eksport.
h. Membuat jaringan antar pebelajar dan antar instruktur.
i. Memnciptakan bahan bahan multimedia pendidikan berkualitas tinggi dalam bentuk yang mudah diperoleh.
j. Mengadakan penelitian untuk kebutuhan pendidikan dan pelatihan.
k. Menggunakan teknologi-teknologi baru untuk pengembangan pendidikan dan pelatihan serta mengevaluasi penggunaanya.
Inti pokok pelayanan pendidikan “Elektronik” adalah infrastruktur jaringan multimedia internal yang membolehkan institusi lain untuk mengakses, menciptakan dan member pelayanan multimedia pendidikan dalam aneka macam format dan aneka macam cara. Konfigurasi teknis sebuah institusi pendidikan “Elektronik” memiliki fungsi produksi, brooker, dan manajemen berbagai input yang berupa audio, program, maupun video. Sedangkan outputnya dapat berupa program, barang cetakan, komunikasi dengan radio selular, satelit, atau server multimedia.
3. Prinsip pedagogi dan disain penilaian antar budaya
Tujuan pembelajaran online adalah menjamin bahwa pedagogi dan kurikulum fleksibel, dapat menyesuaikan diri dan relevan bagi siswa dari berbagai latar belakang,, sehingga aspek pedagogi bersifat mendukung kebutuhan antar budaya. Persoalannya adalah sampai seberapa jauh pembelajaran online dapat memahami pengertian lintas budaya.
Banyak peneltian yang dilakukan mengenai pola sumber pendidikan trans-nasional. Kendala pembelajaran online yang efektif dalam komunikasi global adalah:
§ Permasalahan budaya dan lingkungan.
§ Perbedaan perbedaan gaya mengajar.
§ Permasalahan yang berhubungan dengan nilai pendidikan dan budaya yang berbeda.
§ Permasalahan bahasa dan semantic.
§ Maslah teknik yang berhubngan dengan platform, sisitem pengoperasian dan tidak adanya interface standar.
Hal penting lain yang perlu dipertimbangkan dalam proses pendidikan online adalah kurikulum. Kurikulum inklusif bertujuan untuk meningkatkan hal timbal balik (reciprocity), pengembangan arus dua arah, dan nilai-nilai antara. Kurikulum inklusif memiliki cirri-ciri:
1. Menilai budaya latar belakangdan pengalaman mahasiswa.
2. Inklusif gender budaya atas perbedaan yang berhubungan dengan etnic, bahasa dan latar belakang sosio-ekonomi.
3. Mengakui bahwa setiap keputusan kurikulum adalah pemilihan daripada kebenaran lengkap.
4. Menjadikan eksplisit pola mata pelajaran pendukung yang rasional.
5. Responsive terhadap dasar pengetahuan siswa.
Simak
Baca secara fonetik
Kamus - Lihat kamus yang lebih detail
BELAJAR BERBASIS ANEKA SUMBER
Belajar Berbasis Aneka Sumber (BEBAS) merupakan proses belajar alternatif bag mereka yang tidak mampu masuk kedalam lembaga pendidikan konvensional. Dengan BEBAS seorang anak didik dapat belajar dengan sumber belajar apa saja, belajar dari siapa saja, belajar kepada siapa saja, belajar tentang apa saja, dan belajar untuk tujuan apa saja.
Keuntungan dari BEBAS disamping perluasan bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang mereka inginkan juga mengurangi beban pemerintah dalam menyeenggarakan pendidikan nasional.
BEBAS di Lembaga Pendidikan Konvensional
konsep penggunaan sumber belajar di sekolah memang telah menggunakan pendekatan bebas ini. Tetapi penggunaan suber belajar masih didominasi oleh perancangan, belum memeanfaatkan yang ada disekelilingnya secara optimal. Keberadaan SMP, SMA, dan Universitas terbuka nampaknya telah mendekati dari konsep BEBAS, yakni menggunakan sumber belajar yang relatif lebih luas yang berada di lingkungan sekitar siswa.
BEBAS Non-Format Pendidikan Konvensional
Dalam pandangan faham belajar sosial, seorang tidak didorong oleh tenaga dari dalam, demikian pun tidak digencet stimulus-stimulus yang berasal dari lingkungan. Alih-alih fungsi psikologi orang itu dijelaskan sebagai fungsi interaksi timbalbalik yang terus menerus terjadi antara faktor-faktor penentu pribadi da lingkungannya.
(Bandura, 1977b, hal.-11).
Maksudnya adalah asas belajar yang berlaku dalam lingkungan yang wajar., lingkungan sekitar sekitar memberikan kesempatan yang luas kepada individu untuk memperoleh keterampilan yang kompleks.
Penggunaan sumber belajar dapat digolongkan kedalam tiga tingkatan kebebasannya, yaitu:
1. bebas mutlak
urusan belajar dan hal yang terkait, merupakan hak asasi manusia sehingga setiap individu atau sekelompok orang bebas menentukan apa saja yang terkait dengan belajar termasuki sumber belajarnya. Dalam hal demikian siapapun kita tidak dapat berbuat banyak atas orang lain dalam hal belajarnya
2. Bebas terkendali longgar
Proses belajar dan penggunaan sumber belajar tekendali dalam arti positif oleh para inisiator, organisator, lembaga swadaya masyarakat (LSM) secara longgar demi efektivitas proses belajar.
3. Bebas terkendali ketat
Dilakukan oleh berbagai institusi pendidikan konvensional yang telah memiliki aturan yang terkadang bersifat kaku dan berskala nasional.
Belajar dalam kehidupan bermasyarakat dapat digolongkan menjadi:
a) belajar dengan...
Menunjukan bahwa proses belajar itu disertai, didampingi, dengan perantara, menggunakan sesuatu yang mendukung proses belajar itu sendiri sehingga tercapailah tujuan belajar.
b) belajar dari...
Menunjukan bahwa didalam proses belajar terdapat sesuatu yang digali sehingga pebelajar menguasai dan mencapai tujuan belajar.
c) belajar kepada...
Hal ini menunjukan adanya obyek yang dijadikan narasumber.
Misalnya: belajar kepada kyai, guru, dosen, seorang ahli, dll.
d) belajar tentang...
Hal ini menunjukan adanya Spesifikasi materi yang akan dikuasai sehingga proses belajar menjadi terfokus kepada satu atau beberapa ha yang sejenis.
Misalnya: belajar tentang matematika, pemograman berbasis komputer, sepak bola, desain interior, dll.
e) belajar untuk...
Hal ini menunjukan tentang adanya tujuan akhir belajar.
Misalnya: belajar utuk menjadi seorang sopir yang baik maka seseorang harus pula belajar tentang mobil, jalan raya, aturan lalu lintas, dan juga ia harus belajar dari sopir lainnya.
Menurut Association Educational Communication and technology (AECT) :
Learning resources (for educational technology) all of the resources (data, people, and things) which may be used by the learner in isolation or in combination usually in a formal manner, to facilitate learning; they include messages, people, materials, devices, techniques, and setting. (AFCT,1977,p.F)
Yang dimaksud dengan sumber (pen: sumber belajar) ialah asal (pen: sesuatu) yang mendukung terjadinya belajar, termasuk system peayanan, bahan pembelajaran, dan lingkungan.
Peluang
Peluang melaksanakan BEBAS dan memperoleh manfaat dari BEBAS ini secara garis besar dapat dikelompokan kedalam:
1. individu
2. keluarga
3. masyarakat
4. pemerintah
5. tempat kerja
6. tempat ibadah
7. media
8. sekolah
9. perguruan tinggi
Peran Pemerintah Untuk Melancarkan Program BEBAS
Pemerintah dapat berperan dengan mengeluarkan aturan khusus mengenai mekanisme pelaksanaan BEBAS termasuk didalamnya kurikulum khusus untuk BEBAS, acuan patokan penguasaan kemampuan, standar minimal, serta sertifikasi atau pemberian semacam surat tanda tamat belajar sehingga menarik banyak kalangan untuk ikut serta didalamnya.
Pengendalian Mutu BEBAS
Pengendalian ini dimaksudkan agar terdapat standar minimal yang disesuaikan dengan kondisi si pelajar. Dalam pendidikan formal dikenal dengan standar acuan patokan, yakni level kemampuan tertentu yang menjadi rujukan penguasaan kemampuan peserta belajar.
INSTRUCTIONAL DESIGN CHAPTER 1
what does instructional design mean?
the term instructional deign refers to the systematic and reflective process of translating principles of learning and instruction into plans for instructional materials, activities, information resources, and evolution. an instructioanl designer is somewhat like an engineer.
to understand the term intstructional design more clearly, we will review the maenigs of the words instruction design
instruction is the intentional facilitation of learning toward identified learning goals. instruction is the intentional arrangement of experiences, leading to learners acquiring particular pabilities.
term such as education, training, and teaching are often used interchangeably with instruction .
all instruction is part of education becauser all instruction consist of experiences leading to learning. but not all instruction can be considered training, how ever. for instance, in mltary education programs, learners maybe provided with some general instruction in math and reading.
in summary, this text focuses on the facilitation of learning : instruction. here we will consider instruction to be a subset of education.
what is design ?
design is an activity or process that poeple engage in that improve the quality of their susequent creations. design is related to planning, the differnce being that once the expertise and care with which planning is conducted reaches a certain point, we begin to refer to the activity as "design".
THE INTRUCTIONAL DESIGN PROCESS.
1. where are we going ? "perform an instructional analysis"2. how will get there ? "develop an intructional strategy"3. how will we know when we have arrined ? "develop and conduct an evaluation" these three activities form the foundation of the approach to instructional design*that this book describes.
AN OVERVIEW OF THE DESIGN PROCESS:DESIGNING TRAINING FOR DIGITAL-MAGIC REPAIR PERSONS
ANALYSIS. during the activity the designers will learn as much as they can aboutthe environmenet in which the learners (repair person) will be trained, about the learners themselves, and about the repair the task for which the learners must be prepared. the designer will ask many question of the manager and supervisors in the digital-magic company, the developers of the new television system,those who have provided training for repair persons in the past,and of the learners themselves. they will analyze the learning task itself.
SELECTING THE INSTRUCTIONAL STRATEGY
in addition, the designers determine what sequence of intruction should follow. they choose the medium (a single medium ) or media (a combination of multiple media ) that will support the intruction. this is the stage at which the desiners will determine exactly how intruction will take place.
EVALUATION at digital-magic some of the questions taht may be asked include the following :1. is the content accurate ?2. how should we conduct these tryouts ?3. what questions should be answered in order to determine problems in the groups ?4. what revisions should be made in the intruction ? when we use the term evaluation, it will often be in reference to the broad topic including both assessment of learners and evaluations of the intructions.
Instructional Design Models
The designer engages in three major activities: analysis, strategy development, and evaluation. These three activities are the essence of most instructional design models.
This process of building your own model is enabled by a thorough knowledge of the principles that guide design.Advantages of Using Systematic Instructional Design.
1. Encourages advocacy of the learner.
2. Supports effective, efficient, and appealing instruction. All of these factors are considered indicators for success.
3. Supports coordination among designers, developers, and those who will implement the instruction.
4. Facilitates diffusion/dissemination/adoption.
5. Supports development for alternate embodiments or delivery systems.
6. Facilitates congruence among objectives, activities, and assessment.
7. Provides a systematic framework for dealing with learning problems.
People Who Do Instructional DesignAs you may (or may not) recall from the Preface, the treatment of instructional design in this text is intended for everyone who may benefit from it.
advantages of using systematic instructioanl design
1. Encourages advocacy of the learner.
2. Supports effective, efficient, and appealing instruction.
3. Supports coordination among designers, developers, and those who will implement the instruction
4. Facilitates diffusion/dissemination/adoption
5. Supports development for alternate embodiments or delivery systems
6. Facilitates congruence among objectives, activities, and assessment.
7. Provides a systematic framework for dealing with learning problems.
Limitations of Systematic Instructional Design
Instructional design does have limits of applicability; it is not the solution to all the ills and problems of education and training, nor is it the only method for creating education.
People Who Do Instructional Design
As you may (or may not) recall from the Preface, the treatment of instructional design in this text is intended for everyone who may benefit from it.
TRAINING DESIGNERS
Training may be pert of a human resources department or they may have their own separate department. Not all trainers are instructional designers. Some trainers are experts in their skill or subject area, who are either permanently or temporarily assigned to conduct training in that area. Many trainers come from an adult education backgorund that emphasizes adult development.
TEACHER DESIGNERS
Some individuals employed as teacher are directly involved in the design of new instruction. Intructional design procedures and principles can be employed effectively in their curriculum design and development activities. These design activities are completet both planfully in advance of implementation and spontaneously as circumstances suggest their us.most often these instructional design activities are conducted mentally with little documentation of the decision made.
OTHER DESIGNERS
Instructional designers are also engaged in developing instruction that is embodied in text books, multimedia, instructional software, and videos used in K-12 and post secondary setting.
Competencies Standards and Ethich of Instructional Design
Competencies
Various agencies have compiled sets of competencies for instructional designers.
Standartds
Fields and his associates elaborated the IBSTPI competencies with training standards as well as providing as description of common and usus of standards by various subgroups.
Ethics
Like copetencies and standarda, profesional codes of ethics provide guidance for good pratice
the term instructional deign refers to the systematic and reflective process of translating principles of learning and instruction into plans for instructional materials, activities, information resources, and evolution. an instructioanl designer is somewhat like an engineer.
to understand the term intstructional design more clearly, we will review the maenigs of the words instruction design
instruction is the intentional facilitation of learning toward identified learning goals. instruction is the intentional arrangement of experiences, leading to learners acquiring particular pabilities.
term such as education, training, and teaching are often used interchangeably with instruction .
all instruction is part of education becauser all instruction consist of experiences leading to learning. but not all instruction can be considered training, how ever. for instance, in mltary education programs, learners maybe provided with some general instruction in math and reading.
in summary, this text focuses on the facilitation of learning : instruction. here we will consider instruction to be a subset of education.
what is design ?
design is an activity or process that poeple engage in that improve the quality of their susequent creations. design is related to planning, the differnce being that once the expertise and care with which planning is conducted reaches a certain point, we begin to refer to the activity as "design".
THE INTRUCTIONAL DESIGN PROCESS.
1. where are we going ? "perform an instructional analysis"2. how will get there ? "develop an intructional strategy"3. how will we know when we have arrined ? "develop and conduct an evaluation" these three activities form the foundation of the approach to instructional design*that this book describes.
AN OVERVIEW OF THE DESIGN PROCESS:DESIGNING TRAINING FOR DIGITAL-MAGIC REPAIR PERSONS
ANALYSIS. during the activity the designers will learn as much as they can aboutthe environmenet in which the learners (repair person) will be trained, about the learners themselves, and about the repair the task for which the learners must be prepared. the designer will ask many question of the manager and supervisors in the digital-magic company, the developers of the new television system,those who have provided training for repair persons in the past,and of the learners themselves. they will analyze the learning task itself.
SELECTING THE INSTRUCTIONAL STRATEGY
in addition, the designers determine what sequence of intruction should follow. they choose the medium (a single medium ) or media (a combination of multiple media ) that will support the intruction. this is the stage at which the desiners will determine exactly how intruction will take place.
EVALUATION at digital-magic some of the questions taht may be asked include the following :1. is the content accurate ?2. how should we conduct these tryouts ?3. what questions should be answered in order to determine problems in the groups ?4. what revisions should be made in the intruction ? when we use the term evaluation, it will often be in reference to the broad topic including both assessment of learners and evaluations of the intructions.
Instructional Design Models
The designer engages in three major activities: analysis, strategy development, and evaluation. These three activities are the essence of most instructional design models.
This process of building your own model is enabled by a thorough knowledge of the principles that guide design.Advantages of Using Systematic Instructional Design.
1. Encourages advocacy of the learner.
2. Supports effective, efficient, and appealing instruction. All of these factors are considered indicators for success.
3. Supports coordination among designers, developers, and those who will implement the instruction.
4. Facilitates diffusion/dissemination/adoption.
5. Supports development for alternate embodiments or delivery systems.
6. Facilitates congruence among objectives, activities, and assessment.
7. Provides a systematic framework for dealing with learning problems.
People Who Do Instructional DesignAs you may (or may not) recall from the Preface, the treatment of instructional design in this text is intended for everyone who may benefit from it.
advantages of using systematic instructioanl design
1. Encourages advocacy of the learner.
2. Supports effective, efficient, and appealing instruction.
3. Supports coordination among designers, developers, and those who will implement the instruction
4. Facilitates diffusion/dissemination/adoption
5. Supports development for alternate embodiments or delivery systems
6. Facilitates congruence among objectives, activities, and assessment.
7. Provides a systematic framework for dealing with learning problems.
Limitations of Systematic Instructional Design
Instructional design does have limits of applicability; it is not the solution to all the ills and problems of education and training, nor is it the only method for creating education.
People Who Do Instructional Design
As you may (or may not) recall from the Preface, the treatment of instructional design in this text is intended for everyone who may benefit from it.
TRAINING DESIGNERS
Training may be pert of a human resources department or they may have their own separate department. Not all trainers are instructional designers. Some trainers are experts in their skill or subject area, who are either permanently or temporarily assigned to conduct training in that area. Many trainers come from an adult education backgorund that emphasizes adult development.
TEACHER DESIGNERS
Some individuals employed as teacher are directly involved in the design of new instruction. Intructional design procedures and principles can be employed effectively in their curriculum design and development activities. These design activities are completet both planfully in advance of implementation and spontaneously as circumstances suggest their us.most often these instructional design activities are conducted mentally with little documentation of the decision made.
OTHER DESIGNERS
Instructional designers are also engaged in developing instruction that is embodied in text books, multimedia, instructional software, and videos used in K-12 and post secondary setting.
Competencies Standards and Ethich of Instructional Design
Competencies
Various agencies have compiled sets of competencies for instructional designers.
Standartds
Fields and his associates elaborated the IBSTPI competencies with training standards as well as providing as description of common and usus of standards by various subgroups.
Ethics
Like copetencies and standarda, profesional codes of ethics provide guidance for good pratice
Jumat, 17 Desember 2010
SMU TERBUKA SEBUAH ALTERNATIF LAYANAN PENDIDIKAN TINGKAT SEKOLAH MENENGAH UMUM
Upaya tersebut merupakan suatu perwujudan pelaksanaan Undang-undang Dasar 1945 yang mengamanatkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional yang diatur oleh undang-undang. SMU Terbuka dipandang sebagai salah satu alternatif layanan pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan setingkat SLTA , dengan kegiatan belajar yang bersifat fleksibel dan biaya yang relatif terjangkau oleh masyarakat luas.
Teori dan Konsep Model Pendidikan SMU Terbuka
Teori yang melandasi sistem SMU Terbuka adalah teori belajar mandiri.
Dari konsep teori belajar mandiri diatas, belajar mandiri mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Kegiatan belajar siswa tidak harus dilakukan dalam ruang kelas formal dengan tatap muka langsung dengan guru mata pelajaran.
2. Secara periodik siswa berkonsultasi dengan staf sekolah (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru) untuk memecahkan kesulitan dan masalah belajar.
3. Secara teratur siswa belajar dan menyelesaikan tugas-tugas individualnya.
SMU Terbuka adalah subsistem pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan kegiatan belajar mandiri para peserta didiknya dengan bimbingan terbatas dari orang lain. SMU Terbuka merupakan salah satu model layanan pendidikan alternatif jalur sekolah tingkat menengah yang diselenggarakan oleh SMU reguler. SMU Terbuka bukanlah lembaga atau UPT baru yang berdiri sendiri, melainkan menginduk pada SMA reguler yang telah ada. Dengan demikian, SMU reguler yang menjadi Sekolah Induk SMU Terbuka menyelenggarakan pendidikan dengan dual mode system (tugas ganda). Artinya, Sekolah Induk SMU Terbuka sekaligus melayani dua kelompok peserta didik yang berbeda, dengan cara belajar yang berbeda. Dalam hal ini, Sekolah Induk SMU Terbuka diberi perluasan atau tambahan peran, yaitu berupa layanan pendidikan dengan sistem belajar jarak jauh yang diperuntukkan bagi peserta didik yang memiliki kendala tertentu. (Pustekkom, 2005).
Dari informasi tersebut di atas dapatlah dirumuskan bahwa model/sistem pendidikan SMU Terbuka adalah model/sistem pendidikan SMU yang sebagian besar kegiatan pembelajaran-nya dilaksanakan secara mandiri dengan menggunakan bahan-bahan belajar yang dapat dipelajari peserta didik secara mandiri tanpa atau dengan seminimal mungkin bantuan orang lain. Karena itulah, para peserta didik SMU Terbuka setiap harinya belajar mandiri di Tempat Kegiatan Belajar (TKB) di bawah supervisi Guru Pamong, baik secara individual maupun dalam bentuk kelompok-kelompok kecil. Guru Pamong tidak bertugas mengajar karena memang mereka bukanlah orang yang berkualifikasi mengajar di SMU.
Konsepsi dasar yang melandasi pengertian/batasan SMU Terbuka sebagaimana yang telah dikemukakan di atas adalah bahwa:
a. Belajar pada prinsipnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi seseorang dengan sumber-sumber belajar, baik yang dirancang secara khusus maupun melalui pemanfaatan sumber-sumber belajar yang tersedia;
b. Kegiatan belajar dapat terjadi di mana dan kapan saja, serta tidak sepenuhnya hanya tergantung pada guru dan gedung sekolah;
c. Kegiatan belajar-mengajar akan mencapai tujuannya apabila berpusat pada peserta didik dan melibatkan peserta didik secara aktif;
d. Penggunaan media pembelajaran yang dirancang secara benar dan tepat akan dapat memberi hasil belajar yang maksimal sesuai dengan karakteristik media itu sendiri; dan
e. Peserta didik pada prinsipnya mempunyai kemungkinan yang sama untuk berhasil dalam belajarnya apabila diberikan kesempatan dan perlakuan yang sesuai dengan karakteristiknya (Pustekkom-Depdiknas, 1999).
Karakteristik Model/Sistem Pendidikan SMU Terbuka
Karakteristik pelajaran meliputi tujuan yang dicapai dalam pelajaran dan hambatan untuk mencapainya, karakteristik siswa antara lain pola kehidupan sehari-hari, keadaan sosial ekonomi, latar belakang pengetahuan, keterampilan, sikap, dan sebagainya. Pengorganisasian bahan pelajaran antara lain bagaimana merancang bahan pelajaran untuk keperluan belajar mandiri, mendistribusikan kesiswa sehingga sampai tepat waktu.
Mengingat model/sistem pendidikan SMU Terbuka adalah bagian (subsistem) dari pendidikan SMU reguler, maka peserta didik SMU Terbuka adalah juga peserta didik dari SMU reguler yang ditunjuk sebagai Sekolah Induk SMU Terbuka. SMU Terbuka merupakan pola pendidikan yang menerapkan sistem belajar jarak jauh pada jenjang pendidikan menengah yang kegiatan pembelajarannya dilaksanakan secara fleksibel melalui penerapan prinsip-prinsip belajar mandiri. Pada hakekatnya, SMU Terbuka sama dan sederajat dengan SMU reguler/konvensional. Perbedaannya hanya terletak pada aspek pembelajarannya di mana para peserta didik SMU Terbuka belajar secara mandiri tanpa atau dengan seminimal mungkin bantuan orang lain, baik secara perseorangan maupun dalam kelompok kecil. (Pustekkom-Depdiknas, 2000).
Berdasarkan konsep tentang SMU Terbuka sebagaimana yang dikemukakan pada dokumen Pustekkom (Pustekkom-Depdiknas, 2000), maka karakteristik pendidikan SMU Terbuka dapat dilihat dari aspek tujuan, peserta didik, bahan dan pola pembelajar, kelembagaan, Organisasi dan Mekanisme, evaluasi dan sertifikasinya.
a. Tujuan Penyelenggaraan SMU Terbuka
Sebagai subsistem dari pendidikan SMU reguler, tujuan penyelenggaraan SMU Terbuka adalah sama dengan tujuan pendidikan menengah sebagaimana yang dirumuskan di dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0489/U/1992 yaitu: (a) meningkatkan pengetahuan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan untuk mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kesenian; dan (b) meningkatkan kemampuan (keterampilan hidup) peserta didik sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar.
b. Peserta didik
Peserta didik SMU Terbuka adalah lulusan SMP, Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau yang sederajat maupun peserta didik putus sekolah pada jenjang pendidikan menengah dengan rentangan usia antara 15-18 tahun. Dengan demikian, tidak ada perbedaan mengenai peserta didik yang diterima di SMU Terbuka dengan peserta didik yang diterima di SMU reguler/ konvensional dan memperoleh ijazah yang sama dengan siswa SMU. Perbedaan barulah tampak sewaktu para peserta didik belajar di SMU Terbuka, di mana sebagian besar kegiatan belajar mereka dilakukan secara mandiri, baik di TKB, di rumah atau di tempat lainnya.
c. Bahan dan pola Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran
SMU Terbuka adalah pola pendidikan terbuka pada jenjang pendidikan menengah yang sistem pembelajarannya bersifat fleksibel dengan menerapkan prinsif-prinsif belajar mandiri melalui pemanfaatan sumber belajar yang tersedia secara optimal. Bahan belajar utama yang digunakan para peserta didik SMU Terbuka berbeda dengan yang digunakan di SMU reguler sekalipun acuan yang digunakan untuk pengembangan bahan belajarnya adalah sama, yaitu kurikulum SMU yang berlaku. Bahan belajar yang digunakan para peserta didik SMU Terbuka adalah bahan belajar mandiri cetak yang disebut modul (bahan belajar utama) dan bahan belajar dalam bentuk media lainnya (penunjang). Sekalipun demikian, tidaklah berarti bahwa peserta didik SMU Terbuka tidak boleh mempelajari bahan belajar yang digunakan oleh rekannya di SMU reguler atau sebaliknya.
Bahan belajar yang digunakan peserta didik SMU Terbuka memang dirancang secara khusus agar dapat dipelajari secara mandiri, baik secara individual maupun dalam kelompok-kelompok kecil oleh para peserta didik. Dikatakan secara khusus karena dengan mempelajari modul, para peserta didik dikondisikan seolah-olah berinteraksi dengan guru. Bahasa yang digunakan di dalam modul adalah bahasa yang komunikatif, mudah dipahami, dan memungkinkan para peserta didik untuk mengevaluasi diri sendiri, baik melalui umpan balik segera (immediate feedbacks) maupun kunci jawaban soal-soal latihan/tugas yang tersedia di dalam modul dan akan ditunjang oleh media noncetak yang terdiri dari program audio, video/vcd, dan media lainnya. Jadi kualitas bahan belajar perlu mendapat perhatian untuk dapat meningkatkan mutu pembelajaran di SMU Terbuka. Oleh karena itu, pengembangan bahan belajar dilakukan secara sistematis sehingga dihasilka bahan belajar yang berkualitas, baik dari segi isi materi, penyajian, maupun tampilan. Dengan demikian bahan belajar tersebut menarik dan mudah untuk dipelajari.
Peserta didik SMU Terbuka tidak dituntut untuk datang setiap hari ke SMU reguler yang ditentukan tetapi mereka hanya datang belajar setiap sore (pukul 14.00 sd. 17.00) selama 5 hari setiap minggunya di TKB di bawah supervisi Guru Pamong. TKB merupakan suatu tempat yang memungkinkan digunakan peserta didik secara teratur untuk belajar. Tempat yang dijadikan sebagai TKB adalah sebuah tempat yang dapat mengakomodasikan satu rombongan belajar yang jumlahnya berkisar antara 5-20 orang peserta didik. TKB dapat berupa gedung SD, gedung SMP, Balai Desa, pondok pesantren atau tempat pertemuan lainnya yang ada dan yang relatif terjangkau oleh semua peserta didik yang tergabung ke dalam satu rombongan belajar.
Kegiatan belajar tutorial tatap muka biasanya dilaksanakan pada hari Sabtu atau hari libur di Sekolah Induk. Pada umumnya, untuk setiap mata pelajaran, minimal mendapat alokasi tutorial selama 2 x 45 menit per bulan. Sedangkan untuk mata pelajaran yang sukar seperti bahasa Inggris, matematika, fisika, dan mata pelajaran yang penting seperti bahasa Indonesia, dalam sebulan minimal mendapat alokasi waktu tutorial 3 x 45 menit per bulan. Namun apabila SMU Terbuka tertentu menganut pola tutorial dua hari dalam seminggu, maka jumlah alokasi waktu tutorial untuk mata pelajaran yang sulit/penting minimal 4 x 45 menit dalam sebulan (Departemen Pendidikan Nasional, 2004).
Untuk mengikuti kegiatan belajar tutorial tatap muka ini, para peserta didiklah yang datang ke Sekolah Induk. Dengan kehadiran peserta didik di Sekolah Induk, maka berbagai fasilitas yang tersedia/dimiliki oleh Sekolah Induk dapat dimanfaatkan oleh para peserta didik SMU Terbuka sewaktu mereka datang ke Sekolah Induk. Dalam kegiatan tutorial tatap muka, Guru Bina dapat memanfaatkan modul, buku-buku lain yang relevan, media audio, media video, laboratorium, perpustakaan, dan lingkungan sekitar yang ada di Sekolah Induk (Departemen Pendidikan Nasional, 2004). Apabila berdasarkan berbagai pertimbangan, kegiatan tutorial tatap muka dapat saja dilaksanakan di luar Sekolah Induk, misalnya di salah satu gedung Sekolah Dasar yang terdekat dengan tempat tinggal mayoritas peserta didik. Apabila keadaannya demikian ini, maka Guru Binalah yang datang menjumpai peserta didik untuk menyelenggarakan kegiatan belajar tutorial tatap muka. Evaluasi belajar yang dilakukan mencakup Tes Mandiri, Tes Akhir Modul, Ulangan Harian (Tes Akhir Unit), Ulangan Umum(Ulangan Akhir Semester), dan Ujian Akhir Nasional(UAN). Mengenai pelaksanaan Ulangan umu dan Ujuan Akhir megacu pada peraturan yang berlaku pada SMU Reguler.
d. Kelembagaan, Organisasi dan Mekanisme Pengelolaan
SMU Terbuka lebih tepat bila dikategorikan sebagai suatu sistem belajar jarak jauh, bukannya pendidikan jarak jauh, karena proses pembelajaran utama berlangsung dengan adanya jarak dalam artian ruang dan waktu antara guru dan siswa, dan juga karena pembelajaran di SMU Terbuka lebih ditekankan pada penguasaan ranah kognitif dan psikomotor. Siswa lebih banyak belajar mandiri dengan memanfaatkan bahan belajar yang ada. Lembaga SMU Terbuka bukan merupakan unit pelaksana teknis (UPT) tersendiri. SMU Terbuka merupakan anak yang berinduk pada SMU Reguler terdekat, dan para pendidiknya pun ada didekat siswa setiap diperlukan. Jadi yang berjarak adalah pengadaan bahan belajar utama. Oleh karena itu sebutan pendidikan mandiri atau pendidikan bermedia lebih sepadan untuk mendeskripsikan SMU Terbuka.
Secara konseptual kelembagaan SMU Terbuka dapat ditinjau didasarkan pada kelembagaan sistem pendidikan secara umum. Kelembagaan sistem pendidikan dapat dibedakan dalam tiga dimensi yaitu :
1. Tingkat keresmian atau sifat wajib yang melekat pada lembaga
2. Bentuk kewenagan atau kendali yang dilakukan oleh mereka yang terlibat dalam kegiatan lembaga
3. Macam-macam sumber yang di gunakan untuk keperluan belajar mengajar
Srtuktur organisasi penyelenggaraan SMU Terbuka terdiri dari :
-. Pengarah (Ditjen / Setjen)
-. Penanggung Jawab Program (Dir Dikmenum / Ka Pustekkom)
-. Penanggung Jawab Teknis (Pusat)
-. Pembina (Sekda / Kadis Pendidikan)
-. Tim Teknis (Kasubdin)
-. Pelaksana Teknis (Kasubdin SMU kab/kota)
-. Sekolah (Kabupaten/Kota)
Mekanisme pengelolaan SMU Terbuka agak berbeda dengan SLTP Terbuka. Pada SLTP Terbuka pengelolaan sebagian besar dilakukan oleh pusat, sedangkan pada SMU Terbuka pengelolaan dilakukan dengan melibatkan daerah secara optimal, baik dari segi pendanaan maupun pengelolaan. Pusat hanya mempersiapkan pedoman-pedoman penyelenggaraan dan mempersiapkan bahan belajar selama masa perintisan. Selanjutnya pelaksanaan SMU Terbuka diserahkan kepada daerah (khususnya daerah Kabupaten/Kota).
e. Evaluasi dan Sertifikasi
Evaluasi yang dilaksanakan di SMU reguler diberlakukan juga di SMU Terbuka. Jika peserta didik SMU reguler mengikuti UAS, maka UAS juga dilaksanakan bagi peserta didik SMU Terbuka. Demikian juga dengan UAN, para peserta didik SMU Terbuka tidak terkecuali, mereka mengikuti UAN. Evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan di SMU Terbuka yang setara dengan yang dilaksanakan di SMU reguler adalah sebagai berikut:
1) Tes Akhir Modul (TAM) setara dengan tes formatif atau ulangan harian pada SMU reguler.
2) Tes Akhir Unit setara dengan tes tengah semester (mid semester test) pada SMU reguler.
3) Tes Akhir Semester, yang dilaksanakan pada setiap akhir semester adalah sama dengan ulangan umum pada SMU reguler. Tujuannya adalah untuk mengukur tingkat keberhasilan peserta didik setelah mempelajari sejumlah modul selama satu semester.
4) Ujian akhir merupakan ujian yang diselenggarakan untuk peserta didik SMU Terbuka Kelas III pada akhir tahun ajaran yang pelaksanaannya mengikuti ketentuan yang berlaku di SMU Penyelenggara.
Sertifikasi yang diterima oleh para peserta didik SMU reguler yang telah berhasil menyelesaikan pendidikannya di SMU adalah sama dengan yang diberikan kepada peserta didik SMU Terbuka.
Penyelenggaraan Model/Sistem Pendidikan SMU Terbuka
Ada 2 alasan utama di samping alasan yang bersifat angka-angka yang menjadi dasar pertimbangan dilakukannya perintisan model/sistem pendidikan SMU Terbuka, yaitu dari sisi:
a. Calon peserta didik SMU Terbuka dengan berbagai permasalahannya, dan
b. Fleksibilitas penyelenggaraan model/sistem pendidikan SMU Terbuka.
a. Calon Peserta Didik SMUTerbuka (Anak Usia Sekolah Menengah)
Pada umumnya, SMU reguler berada di ibukota provinsi dan ibukota kabupaten/kota serta di beberapa ibukota kecamatan. Sedangkan Sekolah Menengah tingkat Pertama (SMP) reguler tidak hanya berada di daerah perkotaan tetapi juga sudah sampai ke tingkat kecamatan. Untuk mengakomodasikan jumlah lulusan SMP/MTs atau yang sederajat yang jumlahnya terus meningkat di samping jumlah peserta didik SMU yang putus sekolah, diperlukan satu model/sistem pendidikan SMU yang inovatif dan fleksibel.
Pada uraian sebelumnya telah dikemukakan bahwa beberapa faktor penyebab peserta didik lulusan SMP/MTs tidak melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah adalah karena kemampuan finansial orangtua yang terbatas. Untuk menyekolahkan anak ke SMU menuntut biaya tinggi karena lokasi SMU yang relatif jauh dari tempat tinggal, kondisi geografis yang sulit, lokasi SMU yang pada umumnya terdapat di ibukota Kabupaten/Kota, tuntutan terhadap anak agar membantu orangtua bekerja mencari nafkah, dan ketersediaan sarana mobilitas yang dapat dimanfaatkan peserta didik untuk berangkat dan pulang dari SMU reguler.
Mengingat cukup besar jumlah anak usia sekolah menengah yang cenderung berfungsi sebagai tenaga kerja membantu orangtua mencari nafkah mengakibatkan anak-anak tidak memungkinkan untuk datang belajar setiap hari di SMU reguler yang ada. Anak-anak pada umumnya bekerja membantu orangtua mereka dari pagi hingga siang hari yaitu pada saat yang bersamaan waktunya dengan jam-jam belajar di SMU reguler. Tuntutan untuk bekerja membantu orangtua mencari nafkah di satu sisi dan keinginan/ motivasi untuk tetap dapat melanjutkan pendidikan ke SMU di sisi lain mengakibatkan anak-anak dan orangtua merespon secara positif perintisan penyelenggaraan pendidikan di SMU Terbuka.
Salah satu karakteristik model/sistem pendidikan SMU Terbuka adalah bahwa para peserta didik pada umumnya berusia antara 15-18 tahun yang sebagian besar kegiatan belajarnya dilaksanakan dalam bentuk belajar mandiri di TKB maupun di tempat lainnya dengan menggunakan bahan belajar yang berupa modul dan media lainnya. Tempat yang dijadikan sebagai TKB dipilih yang paling strategis dalam arti relatif dekat atau dapat dengan mudah diakses oleh para peserta didik. Dengan demikian, biaya yang dikeluarkan peserta didik untuk datang ke TKB menjadi relatif lebih kecil dibandingkan apabila peserta didik harus datang belajar setiap hari ke SMU. reguler Peserta didik juga tidak perlu harus “indekos” di ibukota Kabupaten/kota agar dapat melanjutkan pendidikannya ke SMU tetapi peserta didik hanya dituntut sekali atau dua kali seminggu datang ke salah satu SMU reguler yang telah ditunjuk sebagai Sekolah Induk SMU Terbuka.
b. Fleksibilitas model pendidikan SMU Terbuka
Telah dikemukakan sebelumnya bahwa peserta didik SMU Terbuka tidak perlu setiap hari harus datang ke SMU reguler yang lokasinya relatif jauh tetapi mereka cukup datang ke Tempat Kegiatan Belajar (TKB) yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal mereka. SMU Terbuka dikatakan fleksibel karena dapat dibuka atau ditutup sesuai dengan perkembangan tuntutan kebutuhan masyarakat akan pendidikan SMU.
Secara singkat dapatlah dikatakan bahwa SMU Terbuka dapat dibuka di suatu daerah apabila dinilai bahwa di daerah tersebut masih banyak jumlah lulusan SMP/MTs yang tidak melanjutkan pendidikannya ke SMU dan demikian juga dengan jumlah peserta didik putus sekolah di Sekolah Menengah. Apabila kemudian, karena satu dan lain hal, jumlah lulusan SMP/MTs sudah terakomodasikan melalui SMU/MA yang ada, maka SMU Terbuka dapat ditutup tanpa harus menghadapi banyak benturan, baik yang sifatnya berupa perangkat peraturan perundang-undangan maupun yang sifatnya berkaitan dengan pemutusan hubungan kerja.
Salah satu prinsip SMU Terbuka adalah mengoptimalkan pendayagunaan berbagai sumber daya yang ada di masyarakat termasuk tenaga gurunya. Guru mata pelajaran (Guru Bina) yang terdapat di SMU reguler yang dijadikan sebagai Sekolah Induk SMU Terbuka dioptimalkan untuk membantu penyelenggaraan SMU Terbuka dengan hanya memberikan honorarium tambahan. Demikian juga halnya dengan Guru Pamong dan tenaga penunjang lainnya ditempuh dengan cara mengoptimalkan tenaga yang tersedia di masyarakat. Melalui prinsip yang demikian ini, maka biaya pengelolaan SMU Terbuka dapat diminimalisasi.
Sarana/prasarana yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di SMU Terbuka juga tidak diadakan atau dibangun tersendiri tetapi cukup dengan meng-optimalkan pendayagunaan berbagai sarana/prasarana yang tersedia di masyarakat, seperti: gedung SD atau SMP, Balai Desa, atau bangunan lainnya yang tidak digunakan pada sore hari. Sedangkan sarana/pasarana yang berupa gedung SMU yang ditunjuk sebagai Sekolah Induk SMU Terbuka dan berbagai fasilitas yang dimilikinya dapat dioptimalkan juga pemanfataannya oleh para peserta didik SMU Terbuka minimal sewaktu mengikuti kegiatan tutorial tatap muka.
Kesimpulan
Dengan model/sistem pendidikan SMU Terbuka yang inovatif dan fleksibel yang telah memungkinkan para lulusan SMP/MTs sederajat yang kurang beruntung untuk dapat belajar di SMU reguler (karena berbagai kendala/keterbatasannya) dan peserta didik putus sekolah pada pendidikan Sekolah Menengah untuk melanjutkan pendidikannya ke SMU Terbuka. Peserta didik SMU Terbuka tidak diharuskan untuk datang ke SMU reguler yang menjadi Sekolah Induk SMU Terbuka setiap hari tetapi cukup hanya sekali seminggu. Sedangkan kegiatan belajar sehari-harinya dilaksanakan peserta didik secara mandiri di TKB setelah mereka selesai bekerja membantu orangtua mencari nafkah. Yang dapat digunakan sebagai TKB adalah gedung SD, gedung SMP, atau gedung lainnya yang tidak dipakai pada sore hari dan lokasinya relatif terjangkau oleh semua peserta didik yang berada dalam satu rombongan belajar.
Referensi
Dewi Padmo dkk (editor).Teknologi Pembelajaran, Peningkatan Kualitas Pembelajaran melalui Teknologi Pembelajaran, Ciputat: Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan.
Langganan:
Komentar (Atom)